LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

CAD Melebar ke 3,3% PDB, Ruang Pangkas Bunga Menipis

Defisit transaksi berjalan Indonesia melebar ke 3,3% PDB akibat impor migas. Bank Indonesia menahan suku bunga di 5,75% di tengah tekanan rupiah.


Key Takeaways

  • Defisit transaksi berjalan melebar jadi USD 12,5 miliar (3,3% PDB) pada kuartal II-2026, tertekan defisit migas yang mencapai USD 18,75 miliar.
  • The Fed menaikkan proyeksi suku bunga jangka panjang dan memundurkan ekspektasi pemangkasan ke 2028, menahan yield US Treasury tetap tinggi.
  • Bank Indonesia menahan suku bunga acuan di 5,75% guna meredam inflasi 3,19% dan menjaga rupiah di level Rp17.745 per dolar AS.
  • Neraca modal mencatat surplus USD 12,0 miliar, menahan defisit neraca pembayaran di USD 0,9 miliar dan menjaga cadangan devisa di USD 146,5 miliar.

Defisit transaksi berjalan Indonesia di kuartal II-2026 melebar menjadi USD 12,5 miliar atau 3,3% dari PDB. Angka ini naik tajam dibanding kuartal sebelumnya yang tercatat USD 3,6 miliar (1,0% PDB). Pelemahan ini bukan dipicu oleh lesunya aktivitas domestik, melainkan membengkaknya tagihan impor energi yang menggerus ketahanan eksternal.

Beban Migas Mengikis Surplus Dagang Nonmigas

Data neraca perdagangan Januari hingga Juli 2026 memperlihatkan jurang pemisah yang lebar. Surplus sektor nonmigas sebesar USD 22,45 miliar hampir habis tersedot defisit migas yang mencapai USD 18,75 miliar. Akibatnya, surplus dagang secara kumulatif hanya tersisa USD 3,70 miliar karena impor melonjak 19,94% YoY, jauh melompati pertumbuhan ekspor yang hanya 4,43% YoY.

Meski jalur pengapalan minyak Timur Tengah melalui Selat Hormuz mulai pulih ke 10,4 juta barel per hari dan Saudi mengerek ekspornya ke 5,0 juta barel per hari, harga minyak mentah bertahan tinggi. Premi risiko geopolitik yang belum sepenuhnya mereda membuat beban pembelian BBM dan minyak mentah terus menguras cadangan valas domestik.

The Fed Menunda Pemangkasan, BI Kunci Bunga di 5,75%

Di panggung global, arah kebijakan The Fed kian mempersempit ruang pelonggaran likuiditas. Proyeksi ekonomi terbaru bank sentral AS memundurkan jadwal pemangkasan bunga ke 2028, seiring perkiraan inflasi inti PCE yang baru kembali ke target 2% pada 2029. Sikap ini menjaga yield obligasi AS bertahan tinggi dan membatasi aliran dana murah ke negara berkembang.

Kondisi eksternal tersebut memaksa Bank Indonesia mempertahankan suku bunga di level 5,75% setelah menaikkan suku bunga kumulatif 100 bps sejak April 2026. Nilai tukar rupiah yang tertahan di level Rp17.745 per dolar AS, ditambah inflasi tahunan Agustus yang naik ke 3,19% YoY serta inflasi harga grosir di level 6,18% YoY, menutup opsi penurunan suku bunga dalam waktu dekat.

Ketergantungan Baru pada Arus Modal Asing

Secara fundamental, mesin ekonomi dalam negeri sebetulnya masih bertenaga. PDB kuartal II-2026 tumbuh 5,29% YoY, ditopang konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,06% YoY dan belanja pemerintah yang naik 15,97% YoY. Dari sisi fiskal, defisit APBN terjaga aman di level Rp240,1 triliun atau 0,93% PDB, didukung penerimaan negara yang tumbuh 25,4% YoY.

Tantangannya kini berpindah ke neraca eksternal. Dengan defisit transaksi berjalan yang menembus batas psikologis 3% PDB, stabilitas nilai tukar kini sepenuhnya mengandalkan surplus pos finansial sebesar USD 12,0 miliar. Begitu foreign flow di pasar obligasi dan saham mengering, cadangan devisa sebesar USD 146,5 miliar akan langsung diuji untuk menahan tekanan kurs.