Indeks harga rumah 20 kota AS naik ke rekor 346,6 poin pada Agustus. Kenaikan 5 bulan beruntun ini memperburuk keterjangkauan pembeli rumah.
Key Takeaways
- Indeks 20-City Composite menyentuh rekor tertinggi sepanjang sejarah di 346,6 poin setelah naik 0,3% MoM pada Agustus.
- Kenaikan bulanan ini merupakan pertumbuhan lima bulan berturut-turut, membawa laju tahunan ke 2,7% YoY.
- Sejak awal 2019, harga rumah di 20 kota terbesar AS tercatat sudah naik 56,5%.
- Chicago memimpin pertumbuhan selama enam bulan beruntun sebesar 6,7% YoY, diikuti New York 6,2% YoY dan Cleveland 4,3% YoY.
Indeks harga rumah 20 kota utama Amerika Serikat naik 0,3% secara bulanan pada Agustus, mencatatkan kenaikan lima bulan berturut-turut. Secara tahunan, indeks naik 2,7% YoY dan membawa 20-City Composite Home Price Index ke level tertinggi sepanjang sejarah di 346,6 poin. Kenaikan harga ini terus berlanjut tanpa jeda, meski kemampuan beli masyarakat semakin tertekan.
Kenaikan 56,5% Sejak 2019 dan Beban Calon Pembeli
Pertumbuhan harga properti residensial di AS bukan reli sesaat. Sejak awal 2019, harga rumah di 20 kota metropolitan utama sudah naik 56,5%. Kenaikan tanpa henti selama lima bulan terakhir menegaskan bahwa pasar perumahan tetap ketat, dipicu oleh terbatasnya suplai unit yang dijual di pasar sekunder.
Kondisi ini membuat keterjangkauan pembelian rumah atau housing affordability terus memburuk. Calon pembeli menghadapi harga pokok properti yang jauh lebih tinggi dibanding lima tahun lalu, sementara suku bunga kredit perumahan membatasi daya beli riil keluarga kelas pekerja.
Pasar Midwest dan Pantai Timur Jadi Motor Kenaikan
Pergerakan harga tidak seragam di semua wilayah, melainkan bertumpu pada pasar di kawasan Midwest dan Pantai Timur. Chicago memimpin seluruh area metropolitan pada Agustus dengan kenaikan 6,7% YoY. Kota ini berhasil mempertahankan posisinya di urutan pertama selama enam bulan berturut-turut.
New York menyusul di posisi kedua dengan kenaikan 6,2% YoY, sedangkan Cleveland mencatat pertumbuhan 4,3% YoY. Ketiga kota ini mencatat laju kenaikan jauh melampaui rata-rata gabungan 20 kota yang berada di level 2,7% YoY. Pasar dengan pasokan terbatas dan basis harga awal yang lebih terjangkau menarik arus pembelian lebih stabil dibanding kota-kota lain.
Suku Bunga KPR Jadi Penentu Arah Selanjutnya
Jika tren kenaikan harga bulanan terus bertahan bersamaan dengan tekanan biaya sewa yang persisten, maka bank sentral AS akan menahan penurunan suku bunga acuannya lebih lama, yang pada gilirannya membuat bunga KPR tetap tinggi dan memperpanjang tekanan pada daya beli pembeli rumah. Sebaliknya, jika laju harga bulanan melambat mendekati nol atau mulai bergerak turun, maka beban inflasi sektor perumahan akan mereda, membuka peluang pemulihan keterjangkauan bagi calon pembeli.
Fokus pasar ke depan tertuju pada seberapa lama Chicago dan New York mampu mempertahankan pertumbuhan tahunan di atas 6% ketika daya serap pembeli terus tergerus. Angka indeks periode berikutnya akan menguji apakah level rekor 346,6 poin ini mendekati titik jenuh permintaan atau justru menjadi batas bawah baru.