LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

The Fed Melunak, Tapi Kenapa Asia Malah Mengetat?

Ekspektasi bunga The Fed melunak usai data payroll melemah. Namun India dan Jepang justru bersiap menaikkan bunga di tengah lonjakan harga minyak.


Key Takeaways

  • Perlambatan pasar tenaga kerja AS (payroll 29.000, pengangguran 4,2%) menahan perkiraan terminal rate The Fed, tetapi bank sentral Asia justru bergerak mengetat.
  • Bank sentral India (RBI) bersiap menaikkan suku bunga repo ke 5,50% demi menahan pelemahan mata uang rupee di tengah harga minyak Brent yang menyentuh US$102 per barel.
  • Pemangkasan suku bunga PSL China sebesar 25 bps hanya bantuan likuiditas terarah, bukan pelonggaran moneter penuh yang memicu broad re-rating saham.
  • Bank of Japan (BOJ) berpeluang menaikkan bunga acuan pada Desember setelah inflasi inti Tokyo naik ke 3,0% dan indeks Tankan bertahan di level 24.

Pasar tenaga kerja Amerika Serikat mendingin setelah penambahan non-farm payrolls hanya mencatat 29.000 pekerja dan tingkat pengangguran naik ke 4,2%. Di atas kertas, data ini menurunkan ekspektasi terminal rate The Fed dan meredakan tekanan jangka pendek pada aset berisiko global. Namun, arah kebijakan di Asia justru bergerak berlawanan. Tekanan harga minyak mentah dan nilai tukar memaksa bank sentral kawasan mengambil jalur yang lebih ketat.

India Bersiap Kerek Bunga Demi Menahan Rupee

Reserve Bank of India (RBI) diperkirakan menaikkan suku bunga repo sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%. Langkah ini menjadi pembalikan arah pertama sejak awal 2023. Pemicunya jelas: pelemahan mata uang rupee ke level 96,3 per dolar AS dan lonjakan harga minyak Brent ke US$102,48 per barel. Sebagai importir minyak besar, defisit transaksi berjalan India kembali melebar akibat beban energi.

Kondisi tersebut langsung tecermin di pasar ekuitas. Indeks NIFTY telah turun 13,84% sepanjang tahun berjalan. Valuasi saham India tergolong mahal di tengah proyeksi pertumbuhan laba bersih konsensus 2026 yang melambat ke 7%. Manajer investasi global merotasi portofolionya keluar dari India menuju pasar yang menawarkan valuasi lebih masuk akal. Kenaikan bunga acuan RBI mungkin menahan kejatuhan mata uang, tetapi berisiko menekan pertumbuhan kredit domestik.

Stimulus China Terlalu Terarah untuk Memicu Rally Baru

Langkah People's Bank of China (PBOC) memangkas suku bunga Pledged Supplementary Lending (PSL) sebesar 25 basis poin menjadi 1,5% bukan tanda pelonggaran moneter agresif. Suku bunga acuan pinjaman utama seperti Loan Prime Rate (LPR) satu tahun maupun reverse repo tujuh hari tidak diubah sama sekali.

Tambahan kuota pinjaman khusus senilai RMB 200 miliar difokuskan khusus untuk peremajaan mesin industri dan teknologi. Efeknya terarah ke efisiensi belanja modal pabrikan, bukan mengucur ke sektor properti atau konsumsi rumah tangga secara luas. Mengharapkan kenaikan valuasi pasar saham China secara serempak seperti gelombang stimulus September 2024 masih belum berdasar.

Inflasi Tokyo Buka Jalan Kenaikan Suku Bunga BOJ

Di Tokyo, inflasi September mencapai 2,7% secara tahunan dengan inflasi inti-inti (tanpa makanan dan energi) naik ke 3,0%. Kenaikan inflasi sektor jasa ke 2,3% membuktikan bahwa efek kenaikan biaya energi mulai masuk ke harga barang konsumsi harian. Pada saat yang sama, survei Tankan mencatat indeks keyakinan industri besar naik ke level 24 berkat penjualan perangkat keras terkait semikonduktor.

Kombinasi inflasi di atas target 2% dan optimisme korporasi memperkuat peluang BOJ menaikkan suku bunga acuan pada Desember. Di tengah yield obligasi AS 10-tahun di 5,26% dan indeks dolar AS bertahan di 102,1, arus modal di Asia terpolarisasi. Likuiditas kini terkonsentrasi pada emiten semikonduktor Asia Utara yang mencetak laba riil, sementara pasar domestik yang terbebani impor energi harus berhadapan dengan kenaikan biaya modal.