LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Yield US 10Y Tembus 5,25%: Kenapa Saham Masih Tahan?

The Fed dan bank sentral global kembali menaikkan bunga saat yield 10Y tembus 5,25%. Simak analisis valuasi S&P 500 dan arah pergerakan pasar modal.


Key Takeaways

  • The Fed (+25 bps ke 3,75%-4,00%), ECB (+25 bps ke 2,50%), dan Bank of Japan (+25 bps ke 1,25%) serempak menaikkan suku bunga akibat minyak Brent kembali menembus US$100.
  • Yield US 10-year menembus 5,25% (level tertinggi sejak 2007), menekan indeks small cap Russell 2000 turun hampir 10% sejak pertengahan Agustus.
  • S&P 500 bertahan dalam rentang 2% dari rekor tertinggi karena pertumbuhan laba bersih menurunkan valuasi ke 19,1x forward P/E.

Tiga bank sentral utama menaikkan suku bunga dalam kurun delapan hari pada September. The Fed menaikkan suku bunga acuan 25 bps ke rentang 3,75%-4,00% lewat suara bulat 12-0, disusul ECB dan Bank of Japan yang masing-masing mengerek bunga 25 bps. Reaksi pasar obligasi berlangsung cepat: batas psikologis jebol ketika yield US 10-year naik 45 bps dalam sebulan hingga menyentuh 5,25%, level tertinggi sejak 2007. Sementara itu, US 30-year diperdagangkan di sekitar 5,5%.

Kenapa S&P 500 Masih Bertahan di Dekat Puncak

Di tengah tekanan tajam pasar obligasi, S&P 500 hanya berjarak sekitar 2% dari rekor tertingginya. Daya tahan ini ditopang oleh pertumbuhan laba: konsensus memproyeksikan laba per saham (EPS) emiten AS tumbuh 33,5% pada 2026. Laba yang tumbuh lebih cepat daripada harga membuat forward P/E S&P 500 melunak ke 19,1x dari posisi setahun lalu.

Namun daya tahan tersebut tidak merata. Indeks small cap Russell 2000 turun hampir 10% dari puncaknya. Beban bunga pinjaman langsung membebani neraca emiten kecil yang mengandalkan utang berbunga mengambang, sedangkan emiten teknologi berkapitalisasi besar terlindungi oleh cadangan kas yang tebal dan marjin operasi yang tinggi.

Minyak US$100 Mengubah Arah Kebijakan Bunga

Pemicu utama pengetatan moneter ini adalah harga minyak Brent yang kembali ke atas US$100 per barel setelah negosiasi pembukaan Selat Hormuz buntu. Tekanan harga bahan bakar olahan seperti diesel bahkan naik lebih tinggi daripada minyak mentah, memicu risiko kenaikan harga barang sekunder. Kondisi ini membuat inflasi inti sulit turun ke target bank sentral.

Kenaikan imbal hasil obligasi juga menekan harga emas. Emas turun sekitar 6% ke US$4.170 per troy ons pada September karena kenaikan real yield dan penguatan dolar AS meningkatkan biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil bunga.

Pilihan Bergeser ke Tenor Pendek dan Dolar AS

Dengan kurva obligasi jangka panjang yang dibayangi beban defisit anggaran dan pasokan surat utang baru, tenor panjang di atas 10 tahun belum menarik. Minat kini beralih ke obligasi pemerintah tenor 1-2 tahun yang menawarkan carry menarik dengan risiko durasi yang rendah.

Pada pasar valuta asing, mata uang utama seperti EUR, GBP, JPY, dan mata uang negara berkembang berada dalam posisi tertekan terhadap dolar AS. Selisih bunga acuan dan arus dana aman menjaga penguatan greenback dalam jangka pendek.

Hal yang menentukan arah berikutnya adalah kualitas kredit korporasi: apakah beban bunga tinggi mulai merembes dari penerbit obligasi berperingkat CCC ke emiten berkualitas tinggi. Jika credit spread korporasi mulai melebar luas, daya tahan laba emiten saham besar akan diuji kembali.