Yield acuan AS tembus 5,3%. Beban defisit anggaran dan emisi utang AI sebesar US$500 miliar memicu perebutan likuiditas di pasar obligasi global.
Key Takeaways
- Yield US Treasury tenor 10 tahun menyentuh 5,3% dan 30 tahun berada di 5,6%, level tertinggi sejak 2002 di tengah defisit fiskal global rata-rata 5,2% dari PDB.
- Penerbitan obligasi sektor kecerdasan buatan (AI) diproyeksikan mencapai US$500 miliar pada 2027, melampaui pasokan bersih US Treasury tenor 20-30 tahun sebesar US$424 miliar.
- Porsi pembeli sensitif yield seperti hedge fund naik ke 57% di pasar obligasi AS, menggantikan bank sentral yang memangkas neraca lewat quantitative tightening.
Yield US Treasury 10 tahun kini bertengger di level 5,3%, posisi tertinggi dalam lebih dari dua dekade. Di kawasan lain, yield acuan Jerman naik ke 3,6% dan Jepang ke 3,1%. Pasar kerap menyalahkan defisit anggaran negara maju yang belum kembali ke level pra-pandemi. Namun tekanan jual terberat pada tenor panjang kali ini datang dari arah yang berbeda: belanja modal kecerdasan buatan oleh raksasa teknologi.
AI Menyedot Likuiditas Tenor Panjang
Pembangunan infrastruktur data center memaksa emiten teknologi mencari pendanaan baru di pasar surat utang. Belanja modal gabungan pemain besar seperti Microsoft, Alphabet, Amazon, Meta, dan Oracle diproyeksikan menembus US$1 triliun per tahun mulai 2027. Rasio belanja modal terhadap kas operasional mereka naik dari 45% menjadi 104%, menciptakan selisih pendanaan yang harus ditutup lewat obligasi korporasi.
Total penerbitan utang ekosistem AI diperkirakan menembus US$500 miliar, sebagian besar berperingkat investment grade dengan tenor 20 hingga 30 tahun. Suplai ini langsung bertubrukan dengan penerbitan US Treasury tenor 20-30 tahun yang suplai bersihnya hanya sekitar US$424 miliar. Terjadi fenomena reverse crowding out: penerbitan surat utang swasta menyedot modal durasi panjang dan memaksa pemerintah menawarkan yield lebih tinggi agar surat utangnya terserap.
Komposisi Pembeli Berubah ke Hedge Fund
Masalah suplai diperparah oleh pergeseran profil pembeli. Program quantitative tightening menyusutkan neraca The Fed sebesar US$2,4 triliun. Bank sentral dan cadangan devisa negara mitra dagang yang biasanya membeli tanpa mempedulikan tingkat kupon kini menyusut porsinya.
Kekosongan tersebut diisi oleh investor yang sangat sensitif terhadap harga, khususnya hedge fund yang memanfaatkan strategi basis trade. Porsi investor sensitif yield di pasar obligasi AS naik dari 42% pada 2022 menjadi 57%. Kelompok ini tidak memegang obligasi hingga jatuh tempo (hold to maturity). Ketika ekspektasi suku bunga acuan bertahan tinggi atau harga minyak mentah naik, mereka langsung melepas posisi.
Yang Menentukan Kapan Yield Melandai
Tekanan di pasar obligasi diperkirakan baru mereda ketika kebutuhan utang sektor AI mencapai puncak pada 2027. Pada tahap itu, monetisasi infrastruktur komputasi mulai menutup kebutuhan belanja modal secara mandiri dari arus kas operasional. Faktor penentu jangka pendek tetap berada pada harga energi: penurunan harga minyak ke kisaran US$75 per barel menjadi syarat mutlak untuk meredakan ekspektasi inflasi dan menahan kenaikan yield lebih lanjut.