Rikopedia Market Desk
Data → Market → Sektor → Saham → Risiko → Strategi
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Indonesia Jadi Pasar Paling Lemah di Asia: IHSG -26% YTD, Foreign Keluar dari Saham dan Obligasi

 

Indonesia Jadi Pasar Paling Lemah di Asia: IHSG -26% YTD, Foreign Keluar dari Saham dan Obligasi

Indonesia sedang berada di posisi yang tidak nyaman di mata investor global. Ketika beberapa pasar Asia masih mampu menarik dana asing atau minimal bertahan, Indonesia justru mencatat kombinasi terburuk: kinerja indeks paling lemah, rupiah melemah, foreign outflow di saham, dan foreign outflow di obligasi sekaligus.

Data menunjukkan Indonesia menjadi pasar dengan performa indeks terburuk di kawasan, dengan penurunan sekitar -26% YTD. Di saat yang sama, dana asing keluar dari equity sebesar US$3,0 miliar dan dari bond sebesar US$0,8 miliar. Yield obligasi pemerintah 10 tahun Indonesia berada di sekitar 6,7%, tetapi level ini belum cukup untuk menarik dana asing kembali secara agresif. 

Masalah Utama: Indonesia Mengalami “Double Outflow”

Biasanya, ketika pasar saham turun, investor asing bisa saja pindah ke obligasi jika yield-nya menarik. Atau sebaliknya, ketika obligasi kurang menarik, dana asing masih bisa bertahan di saham jika prospek pertumbuhan laba kuat. Namun yang terjadi di Indonesia saat ini berbeda.

ni bukan sekadar koreksi pasar saham biasa. Ini adalah sinyal bahwa investor asing sedang mengurangi eksposur Indonesia dari dua pintu sekaligus: saham dan obligasi.

Artinya, foreign investor belum melihat Indonesia sebagai tempat yang cukup menarik untuk risk-taking, meskipun valuasi saham sudah turun dan yield obligasi relatif tinggi.

Kenapa Yield 6,7% Belum Cukup Menarik?

Secara nominal, yield SBN 10Y di 6,7% terlihat tinggi. Tapi bagi investor asing, yang dilihat bukan hanya yield. Mereka melihat real return setelah memperhitungkan risiko kurs, risiko inflasi, risiko fiskal, dan risiko kebijakan.

Masalahnya, rupiah sudah melemah sekitar -5,6% YTD. Jadi kalau investor asing membeli SBN dengan yield 6,7%, tetapi rupiah melemah dalam, sebagian besar return bisa tergerus oleh rugi kurs.

Sederhananya:

Yield tinggi tidak otomatis menarik kalau risiko rupiah juga tinggi.

Inilah kenapa bond yield Indonesia yang tinggi belum otomatis menarik inflow. Investor asing butuh keyakinan bahwa rupiah sudah stabil, inflasi terkendali, BI kredibel, dan tekanan fiskal tidak membesar.

Dibanding Negara Lain, Posisi Indonesia Paling Lemah

Data perbandingan Asia menunjukkan kontras yang cukup tajam.

Thailand mencatat indeks naik +21% YTD, Malaysia +3%, Vietnam +7%, bahkan Korea Selatan melonjak +73%meskipun equity flow-nya negatif. India turun -9%, tetapi bond flow masih positif. Filipina turun -3%, tetapi bond flow positif US$3,1 miliar dengan yield 10Y sekitar 7,5%

Indonesia berbeda karena mengalami tiga tekanan sekaligus:

Indeks turun tajam → rupiah melemah → foreign keluar dari saham dan obligasi.

Ini menunjukkan pasar Indonesia sedang dipandang lebih berisiko dibanding beberapa emerging market Asia lain.

Penyebab Utama: MSCI, Rupiah, Oil Shock, dan Kredibilitas Makro

Ada beberapa faktor yang membuat Indonesia tertinggal.

Pertama, tekanan MSCI. Indonesia menghadapi risiko penurunan bobot di MSCI EM. Setelah rebalancing Mei 2026, 6 saham keluar dari MSCI Global Standard Index: AMMN, BREN, TPIA, CUAN, DSSA, dan AMRT. Bobot Indonesia di MSCI EM turun dari sekitar 0,9% menjadi hanya 0,6%–0,7%. Potensi foreign outflow dari saham-saham tersebut diperkirakan mencapai sekitar US$1,3 miliar / Rp27 triliun

Kedua, rupiah lemah. Ketika rupiah melemah, investor asing cenderung menahan diri masuk ke aset rupiah. Saham bisa terlihat murah, obligasi bisa terlihat tinggi yield-nya, tetapi kalau risiko kurs belum selesai, capital deployment tetap tertahan.

Ketiga, oil shock. Indonesia adalah net oil importer. Saat harga minyak tinggi, tekanan masuk ke neraca migas, inflasi, subsidi energi, APBN, dan akhirnya rupiah. Ini membuat BI sulit terlalu dovish.

Keempat, risiko fiskal dan kebijakan. Investor global membutuhkan kepastian bahwa defisit fiskal tetap terkendali, subsidi energi tidak membengkak terlalu besar, dan intervensi kebijakan tidak mengganggu kepercayaan pasar.

Dampak ke IHSG: Valuasi Murah Belum Cukup

IHSG memang sudah murah secara valuasi. P/E market sekitar 11,7x, lebih rendah dibanding India, Korea Selatan, Malaysia, dan Thailand. Tetapi murah saja tidak cukup jika foreign masih melihat risiko besar.

Market saat ini bukan kekurangan valuasi murah. Market kekurangan confidence trigger.

Investor asing belum masuk agresif karena masih menunggu:

  1. kejelasan MSCI review,
  2. stabilisasi rupiah,
  3. penurunan tekanan oil,
  4. kepastian BI policy,
  5. perbaikan foreign flow,
  6. risiko fiscal slippage mereda.

Selama faktor-faktor ini belum membaik, IHSG bisa tetap murah lebih lama. Dalam kondisi risk-off, saham murah bisa menjadi lebih murah jika forced selling dan foreign outflow belum selesai.

Sektor yang Paling Tertekan

Tekanan terbesar biasanya terjadi pada saham-saham yang menjadi pusat foreign ownership dan indeks.

Big banks seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI tetap menjadi barometer utama karena bobotnya besar di IHSG dan MSCI Indonesia. Jika foreign masih jual bank, IHSG sulit rebound kuat.

Saham yang keluar MSCI juga rawan tekanan karena ada potensi forced selling dari passive fund. Ini bukan selalu karena fundamental memburuk, tetapi karena fund yang mengikuti indeks harus menyesuaikan portofolio.

Saham high PER tanpa earnings visibility juga rawan derating karena yield tinggi membuat valuasi mahal semakin sulit dipertahankan.

Sektor yang Relatif Lebih Menarik Dicermati

Di tengah tekanan besar, foreign tidak sepenuhnya keluar dari Indonesia. Ada rotasi ke saham-saham tertentu, terutama commodity dan value stocks.

Saham seperti ADRO, UNTR, AADI, ITMG, PTBA, INCO, BRMS, JPFA, CPIN, ASII masuk dalam daftar yang perlu dipantau karena mulai terlihat rotasi foreign ke beberapa nama commodity dan value stocks.

Strategi Investor: Jangan All-In IHSG, Pilih Saham dengan Katalis Jelas

Kondisi saat ini membutuhkan strategi selektif, bukan agresif membabi buta.

Strategi yang lebih rasional:

Pertama, hindari saham yang masih terkena forced selling MSCI sampai tekanan jual benar-benar mereda.

Kedua, jangan terlalu cepat menyimpulkan big banks sudah bottom. Valuasinya memang semakin menarik, tetapi selama foreign flow belum stabil, tekanan masih bisa berlanjut.

Ketiga, fokus ke saham dengan cash flow kuat, dividend yield menarik, dan eksposur commodity. Dalam kondisi rupiah lemah dan oil shock, saham yang punya natural hedge lebih menarik dibanding saham domestik yang sangat sensitif terhadap daya beli.

Keempat, gunakan pendekatan bertahap. Market seperti ini lebih cocok untuk akumulasi selektif, bukan all-in di satu titik.


Kesimpulan

Indonesia saat ini menjadi pasar paling lemah di Asia karena mengalami kombinasi yang tidak ideal:

IHSG -26% YTD, rupiah melemah, foreign outflow di saham, foreign outflow di obligasi, dan yield 10Y 6,7% belum cukup menarik dana asing kembali.

Masalah utamanya bukan hanya valuasi. Masalah utamanya adalah kepercayaan investor asing belum pulih.

Selama MSCI, rupiah, oil shock, dan risiko fiskal belum membaik, IHSG masih berpotensi bergerak volatile. Namun di balik tekanan besar ini, peluang tetap ada untuk investor yang selektif, terutama pada saham yang punya fundamental kuat, valuasi murah, cash flow jelas, dan tidak menjadi korban utama forced selling.

Narasi sederhananya: Indonesia sudah murah, tapi belum sepenuhnya aman. Strateginya bukan mengejar semua saham, tetapi memilih saham yang punya katalis dan risiko paling terkendali.

Bukan ajakan beli/jual. Fokus pada edukasi, analisa skenario, dan manajemen risiko.