Rikopedia Market Desk
Data → Market → Sektor → Saham → Risiko → Strategi
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Harga Oil Turun dan Anggaran MBG Dipangkas: Sentimen Positif untuk IHSG

Penurunan harga oil dan kabar potensi pemangkasan anggaran program Makan Bergizi Gratis menjadi dua sentimen positif yang mulai dibaca market sebagai katalis risk-on. Dampaknya terlihat pada rebound saham-saham yang sensitif terhadap suku bunga seperti perbankan dan properti.

Market hari ini merespons positif dua isu besar: pertama, harga minyak dunia turun; kedua, muncul laporan bahwa pemerintah Indonesia sedang mempertimbangkan pemangkasan anggaran program makan gratis lebih dari US$2 miliar atau sekitar puluhan triliun rupiah.

Kombinasi ini penting karena dua sumber kekhawatiran utama investor terhadap Indonesia belakangan ini adalah risiko inflasi energi dan tekanan fiskal APBN.

Ketika harga minyak turun, tekanan terhadap inflasi berpotensi mereda. Ketika anggaran belanja besar seperti MBG berpotensi dipangkas, pasar membaca ada peluang disiplin fiskal yang lebih baik.

Dengan kata lain, ini bukan hanya kabar positif jangka pendek untuk IHSG, tetapi juga bisa memperbaiki persepsi investor terhadap stabilitas makro Indonesia.

1. Oil Turun: Inflasi Lebih Terkendali, Risiko Suku Bunga Mereda

Harga Oil Turun dan Anggaran MBG Dipangkas: Sentimen Positif untuk IHSG

Harga minyak adalah salah satu variabel penting untuk Indonesia. Walaupun Indonesia bukan lagi eksportir minyak besar, harga oil tetap sangat berpengaruh terhadap inflasi, subsidi energi, kompensasi energi, rupiah, APBN, dan ekspektasi suku bunga.

Alurnya sederhana:

Oil turun → tekanan inflasi mereda → risiko kenaikan suku bunga turun → yield lebih stabil → market risk-on → saham rate-sensitive rebound.

Inilah alasan mengapa saham-saham perbankan dan properti mulai rebound. Dua sektor ini sangat sensitif terhadap ekspektasi suku bunga.

Ketika market khawatir inflasi naik, investor biasanya mengantisipasi bank sentral akan lebih hawkish. Dampaknya, yield naik, valuasi saham tertekan, dan sektor yang sensitif terhadap bunga cenderung melemah.

Sebaliknya, saat oil turun, kekhawatiran inflasi ikut mereda. Market mulai membaca peluang bahwa tekanan kenaikan suku bunga tidak sebesar sebelumnya. Ini membuat saham-saham rate-sensitive kembali dilirik.


2. Oil di Bawah US$80: APBN Lebih Lega

Harga Oil Turun dan Anggaran MBG Dipangkas: Sentimen Positif untuk IHSG

Bagi Indonesia, harga oil yang lebih rendah juga menjadi kabar positif untuk APBN.

Jika harga minyak bertahan lebih rendah, risiko pelebaran subsidi dan kompensasi energi ikut berkurang. Ini penting karena beban subsidi energi bisa menjadi tekanan besar bagi fiskal, terutama ketika harga minyak global naik dan rupiah melemah.

Alurnya:

Oil turun → beban subsidi energi berkurang → tekanan APBN mereda → defisit lebih terkendali → risk premium Indonesia turun.

Ketika risk premium turun, aset Indonesia menjadi lebih menarik di mata investor asing. Ini bisa membantu stabilisasi rupiah, yield SBN, dan aliran dana portofolio.


3. Anggaran MBG Berpotensi Dipangkas: Sinyal Positif untuk Disiplin Fiskal

Harga Oil Turun dan Anggaran MBG Dipangkas: Sentimen Positif untuk IHSG


Sentimen positif kedua datang dari laporan bahwa pemerintah Indonesia sedang mempertimbangkan pemangkasan anggaran program Makan Bergizi Gratis lebih dari US$2 miliar.

Berdasarkan laporan yang ditampilkan Bloomberg mengutip Reuters, Badan Gizi Nasional menargetkan pengurangan minimal 15% dari total anggaran program tahun ini yang sekitar Rp268 triliun.

Jika dihitung:

15% x Rp268 triliun = sekitar Rp40,2 triliun.

Bahkan, salah satu sumber menyebut potensi pemangkasan bisa mencapai sekitar Rp50 triliun.

Bagi market, ini penting karena program MBG sebelumnya menjadi salah satu concern investor terkait besarnya belanja negara, risiko pemborosan, tata kelola, dan tekanan terhadap APBN.

Jika anggaran benar-benar dipangkas, market bisa membaca ini sebagai sinyal bahwa pemerintah mulai lebih berhati-hati dalam menjaga defisit fiskal.

Alurnya:

Anggaran MBG dipangkas → belanja negara lebih terkendali → tekanan defisit APBN berkurang → risk premium Indonesia turun → sentimen asing membaik.


4. Dampak ke IHSG: Risk-On Mulai Terlihat

Kombinasi oil turun dan potensi pemangkasan anggaran MBG bisa menjadi katalis positif untuk IHSG.

Dua isu ini sama-sama menyentuh inti kekhawatiran investor asing terhadap Indonesia:

Pertama, inflasi dan suku bunga.
Jika oil turun, tekanan inflasi berkurang. Jika tekanan inflasi berkurang, ekspektasi kenaikan suku bunga ikut mereda.

Kedua, disiplin fiskal.
Jika anggaran besar seperti MBG dipangkas, tekanan defisit APBN bisa lebih terkendali. Ini membantu menurunkan persepsi risiko fiskal Indonesia.

Karena itu, market mulai masuk ke mode risk-on. Saham-saham yang sebelumnya tertekan karena kekhawatiran suku bunga mulai mengalami rebound.