Doom-loop adalah spiral negatif yang saling memperkuat. Bukan satu masalah berdiri sendiri, tetapi rangkaian masalah yang membuat pasar makin sulit stabil. Indonesia bukan sekadar sedang koreksi market biasa, tetapi sedang mengalami “confidence crisis”. Investor mulai meragukan arah kebijakan fiskal, independensi BI, transparansi pasar, dan stabilitas rupiah.
Kebijakan dianggap tidak kredibel → investor asing keluar dari saham dan obligasi → rupiah melemah → Yield naik, Cost of capital naik→ inflasi dan risiko fiskal naik → BI harus menaikkan bunga / intervensi cadangan devisa → growth melambat → earnings turun → saham makin dijual → rupiah makin tertekan
Jadi rupiah bukan hanya “korban”, tapi juga menjadi pemicu tekanan lanjutan. Ketika rupiah tembus sekitar Rp18.190/US$, investor asing bukan cuma rugi dari harga saham/bond, tetapi juga rugi dari kurs. Itu membuat alasan untuk keluar makin besar. Rupiah turun lebih dari 8% YTD dan menjadi rekor terendah, sementara foreign selling saham mencapai sekitar US$3,2 miliar sampai akhir Mei, terberat sejak 2009.
Kenapa investor kehilangan trust?
Ada tiga sumber tekanan utama.
Pertama, fiskal dianggap makin populis dan mahal. Program seperti makan gratis dipersepsikan sebagai beban besar APBN. Dalam kondisi normal, stimulus sosial masih bisa diterima pasar. Tapi ketika rupiah melemah, harga energi naik, subsidi BBM membengkak, dan penerimaan negara tidak kuat, pasar mulai bertanya: “ini dibiayai dari mana?”
Kedua, policy risk naik. Investor asing tidak suka kebijakan yang mendadak, terlalu sentralistik, dan sulit diprediksi. Rencana sentralisasi ekspor komoditas lewat BUMN/Danantara membuat pasar khawatir efisiensi ekspor terganggu, margin perusahaan berubah, dan aliran devisa menjadi lebih dikontrol negara. Reuters melaporkan regulasi itu mencakup komoditas strategis seperti CPO, batu bara, dan ferroalloy, dengan BUMN sebagai pemilik atau mediator tunggal ekspor.
Ketiga, independensi BI mulai dipertanyakan. Parlemen mengesahkan aturan yang memperluas mandat BI, termasuk mendukung pertumbuhan sektor riil dan penciptaan kerja. Secara teori, growth mandate tidak selalu buruk. Tapi dalam kondisi rupiah melemah, investor takut BI dipaksa lebih pro-growth daripada pro-stability. Risiko persepsinya BI bisa dianggap tidak sepenuhnya bebas menaikkan bunga atau menjaga rupiah jika tekanan politik meminta bunga lebih rendah.
Kenapa kenaikan BI Rate 50 bps belum cukup?
Karena problemnya bukan hanya selisih yield, tapi trust premium.
BI sudah menaikkan bunga 50 bps dan cadangan devisa terus turun untuk menahan rupiah, tetapi rupiah tetap melemah. Pasar tidak hanya meminta yield lebih tinggi, tetapi juga meminta kepastian kebijakan.
Indonesia harus membayar risk premium lebih mahal agar investor mau bertahan. Masalahnya, semakin tinggi yield yang harus dibayar, semakin mahal biaya utang pemerintah dan korporasi. dampaknya menekan valuasi saham, terutama sektor yang sensitif bunga.
Risiko rating: kenapa ini penting?
Bagian paling serius adalah risiko credit rating. Moody’s dan Fitch sudah memangkas outlook Indonesia menjadi negatif karena kredibilitas dan prediktabilitas kebijakan melemah. Fitch mempertahankan rating investment grade, tetapi outlook negatif berarti risiko downgrade berikutnya meningkat jika fiskal, cadangan devisa, atau policy credibility memburuk.
Kenapa downgrade berbahaya?
Karena sebagian global fund punya mandat hanya boleh pegang aset investment grade. Kalau rating turun, sebagian investor bisa menjadi forced seller. Itu bisa menekan obligasi, menaikkan yield, memperlemah rupiah, lalu merembet ke saham.
MSCI: masalah Indonesia bukan hanya makro, tapi juga investability
MSCI sedang meninjau isu trading dan transparansi pasar saham Indonesia. Walau downgrade ke frontier market dianggap belum skenario utama, ancamannya tetap penting karena MSCI adalah pintu masuk dana pasif global.
Artinya, Indonesia kena tekanan dari dua sisi
Makro risk: rupiah, fiskal, rating, BI independence.
Equity market risk: MSCI, free float, transparansi, foreign ownership turun.
