LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

BI Menahan Bunga, Likuiditas Bank Makin Ketat

Keputusan Bank Indonesia menahan suku bunga di 5,75% memberi jeda setelah kenaikan kumulatif 100 basis poin sejak Mei 2026. Ini bukan awal pelonggaran. Posisi kebijakan masih ketat, hanya saja BI memilih menjaga rupiah lewat kombinasi suku bunga, instrumen valas, dan insentif likuiditas daripada langsung menaikkan bunga lagi.

Ruang untuk bersantai memang belum besar. Kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin diperkirakan datang pada kuartal IV-2026, lebih cepat dari perkiraan sebelumnya. Harga minyak yang lebih tinggi juga dapat memperlebar kebutuhan dolar dan menekan rupiah. Kurs rata-rata diproyeksikan sekitar Rp17.604 per dolar AS pada 2026, lalu melemah ke Rp18.104 pada 2027. Jika selisih imbal hasil domestik tidak cukup menarik dana asing, BI Rate masih berpeluang naik ke 6,00% sebelum akhir 2026.

Inflasi juga mulai bergerak naik. Inflasi rata-rata 2026 diperkirakan 3,4%, dibandingkan 1,9% pada 2025, terutama akibat volatile food dan risiko El Niño. Inflasi inti masih lebih terkendali di sekitar 2,8%. Artinya, tekanan harga belum sampai merusak konsumsi secara luas, tetapi emiten makanan, ritel, dan consumer goods dengan pricing power lemah bisa menghadapi margin yang lebih tipis.

Masalah yang lebih dekat bagi saham bank adalah likuiditas. Pertumbuhan kredit Juni mencapai 12,7% secara tahunan, sedangkan dana pihak ketiga hanya tumbuh 10,2%. Loan-to-deposit ratio naik menjadi 90%, sementara rasio aset likuid terhadap simpanan turun ke 23,1%. Kredit memang ekspansif, khususnya kredit investasi, tetapi biaya dana berpotensi naik jika pertumbuhan deposito terus tertinggal.

BI mencoba meredam tekanan tersebut melalui insentif giro wajib minimum hingga 6% dari dana pihak ketiga mulai September. Tambahan keringanan 2% diberikan kepada bank yang menjaga kepemilikan bersih SRBI dan obligasi pemerintah di bawah 19% dari simpanan. Desainnya jelas: bank didorong menyalurkan dana ke kredit atau memutar surat berharga melalui repo, bukan sekadar menikmati yield instrumen moneter.

Bagi pasar saham, implikasinya tidak seragam:

  • Bank besar dengan basis dana murah kuat lebih tahan menghadapi kompetisi deposito dan tekanan net interest margin.
  • Bank kecil yang agresif mengejar kredit menghadapi risiko funding lebih tinggi.
  • Properti, konstruksi, dan emiten berutang besar masih sensitif terhadap cost of capital.
  • Eksportir berbasis dolar memperoleh bantalan dari rupiah lemah, selama harga komoditas tidak turun tajam.

Pertumbuhan ekonomi masih diproyeksikan 5,3% pada 2026, ditopang konsumsi dan investasi. Jadi persoalannya bukan resesi, melainkan kualitas pertumbuhan laba ketika bunga tinggi, rupiah lemah, dan likuiditas tidak lagi murah.