Artinya, Indonesia bukan hanya turun, tetapi underperform sangat jauh dibandingkan kawasan dan emerging market global. Ini berarti ketika dana global masih mau masuk ke emerging market, Indonesia justru tidak menjadi destinasi utama.
Inilah yang sering disebut sebagai country-specific risk. Jadi tekanannya bukan hanya dari faktor eksternal seperti The Fed, yield US Treasury, atau dolar AS. Ada faktor domestik yang membuat investor asing lebih berhati-hati terhadap Indonesia.
Kunci utama pergerakan pasar Indonesia saat ini adalah foreign flow.
Selama asing belum kembali melakukan akumulasi besar, rally IHSG biasanya lebih rapuh. Kenaikan bisa terjadi karena technical rebound, short covering, atau aksi beli domestik, tetapi sulit menjadi tren bullish besar tanpa dukungan dana asing yang konsisten.
Sebelumnya, data foreign flow yang kita pantau juga menunjukkan bahwa YTD foreign outflow pasar reguler masih sangat besar, sekitar Rp88 triliun. Ini menjelaskan kenapa saham-saham big caps Indonesia sulit bergerak kuat secara berkelanjutan. Ketika asing keluar, tekanan paling terasa biasanya muncul di saham-saham kapitalisasi besar.

