LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Presales SMRA Tumbuh, Serpong Jadi Mesin Utama

SMRA membukukan presales Rp1,35 triliun pada kuartal II 2026, naik 12,2% dibanding kuartal sebelumnya dan 3,9% secara tahunan. Angkanya memang tidak meledak, tetapi cukup untuk membawa presales semester I menjadi Rp2,54 triliun, tumbuh 17,1% dan sudah memenuhi 49% target setahun sebesar Rp5,2 triliun. Dengan separuh tahun terlewati, pencapaian ini masih berada di jalur yang masuk akal.

Mesin utamanya tetap Summarecon Serpong. Proyek ini menghasilkan Rp680 miliar selama kuartal II, naik 53% secara kuartalan dan 10,8% secara tahunan. Secara kumulatif, Serpong telah mencetak Rp1,12 triliun atau 72% dari target tahunannya. Bandung juga bergerak cepat: presales semester I mencapai Rp487 miliar, tumbuh 62,6%, sekaligus memenuhi 62% target.

Komposisi tersebut menunjukkan produk di kawasan matang masih jauh lebih mudah diserap pasar. Infrastruktur, fasilitas komersial, dan populasi yang sudah terbentuk memberi Serpong keunggulan dibanding township yang lebih muda. Bandung mulai memperlihatkan pola serupa, meski skala kontribusinya belum sebesar Serpong.

Sisi lemahnya ada di Bogor. Presales kuartal II hanya Rp51 miliar, jatuh 75,7% dari kuartal sebelumnya dan 62,2% secara tahunan. Pencapaian semester pertamanya baru Rp262 miliar atau 33% dari target Rp790 miliar. Proyek lain secara gabungan juga baru memenuhi 33% target, sehingga beban pencapaian semester II masih cukup berat dan makin bergantung pada keberhasilan peluncuran baru.

Produk yang diluncurkan mencakup Rinokai di Makassar serta ruko Emerald dan Diamond di Crown Gading dan Bandung, dengan harga sekitar Rp1,7–3,8 miliar per unit. Namun, penawaran awal hanya 20–40 unit per proyek. Artinya, peluncuran ini belum cukup besar untuk langsung mengubah arah presales grup.

Profil pembayaran relatif sehat. Porsi cicilan tunai naik menjadi 51%, sedangkan KPR bertahan di 32% dan pembayaran tunai 17%. Dominasi cicilan internal membantu penjualan saat konsumen sensitif terhadap bunga kredit, walau arus kas masuk biasanya lebih bertahap dibanding pembayaran penuh.

Pada harga Rp322, SMRA diperdagangkan pada PE 2026 sekitar 5,1 kali dan PBV 0,4 kali. Target Rp460 menyiratkan upside 42,9%, belum termasuk dividend yield 2,7%. Valuasinya murah, tetapi ada alasan pasar memberi diskon: ROE 2026 hanya 8,5% dan diproyeksikan turun menjadi 7,4% pada 2027, sementara EPS diperkirakan menyusut 7,2%. Jadi, rerating saham akan lebih kuat bila pertumbuhan Serpong dan Bandung mulai diikuti Bogor serta proyek-proyek baru, bukan sekadar bergantung pada dua kawasan terbaik.