LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Saat Earnings Kalahkan Geopolitik di Pasar Saham

Minggu ini pasar diguncang kombinasi klasik: konflik Timur Tengah kembali panas, harga energi rebound tajam, dan bond yield ikut melonjak. Yemen's Houthis memblokade Laut Merah menyusul resumnya hostilitas AS-Iran, mendorong harga gas alam Eropa balik ke puncak Maret dan menekan pasar. Tapi menariknya, di tengah semua kebisingan geopolitik ini, yang paling menentukan arah equity ke depan bukan minyak — melainkan earnings.

Mari kita pisahkan sinyal dari noise-nya. WTI sempat menembus USD 90/bbl dan Brent di atas USD 100/bbl, sementara US 10-year yield naik hampir 35bps sejak akhir Juni, menembus 4,7%. Bagi valuasi ekuitas ini bukan hal sepele — kenaikan 25bps pada yield, yang berfungsi sebagai discount rate, bisa memukul global equities sekitar 3-4%. Jadi disiplin itu penting. Tapi ada bantalan yang jarang dibicarakan orang: projected earnings growth 15-20% untuk 2026 dan 2027. Angka pertumbuhan sebesar itu cukup untuk menyerap tekanan valuasi dari sisi rate.

Soal minyak sendiri, saya cenderung tidak percaya eskalasi akan lepas kendali. Iran menghindari serangan ke Saudi dan UAE — sinyal restraint yang jelas. Di sisi lain, dengan mid-term election AS di November, setiap lonjakan harga bensin AS mendekati puncak Mei akan menekan Trump untuk kembali ke meja negosiasi. Itu sebabnya WTI kemungkinan besar tetap di kisaran USD 70-90/bbl beberapa bulan ke depan, membatasi dampak ekonomi riil.

Bank sentral pun kemungkinan besar hold bulan ini sembari mengukur seberapa jauh spike energi menular ke inflasi. ECB sudah menahan deposit rate di 2,25% minggu ini, meski Lagarde membuka opsi hike September. Data inflasi AS Juni yang lebih lunak dari perkiraan — headline PPI turun ke 5,5% y/y — memperkuat pandangan bahwa inflasi sudah puncak di Q2. Dengan wage growth melambat dan shelter serta services cooling, Fed punya ruang untuk stay on hold sepanjang harga bensin terjaga. Segmen 2-5 tahun di yield curve jadi makin menarik kalau ekspektasi rate ikut puncak bersama minyak.

Sekarang bagian yang saya anggap paling penting. Big Tech AS diproyeksikan mencetak earnings growth 65,6% y/y di Q2 dan 57% untuk 2026 penuh, didorong permintaan AI. Sektor tech sudah menyumbang lebih dari separuh EPS upgrades global sejak akhir Februari. Data US Census Bureau menunjukkan adopsi AI sudah menyentuh 20-25% lintas industri — sinyal bahwa siklus ini masih di tahap awal, bukan puncak. Kekhawatiran soal AI commoditisation karena model China yang murah memang valid, tapi Jevons paradox berlaku: makin efisien, makin banyak konsumsi total. Posisi tetap overweight US technology dan communication services.

Di luar AS, financial sector Jepang dan Eropa ex-UK jadi tema struktural yang menarik:

  • Bank Jepang diuntungkan dua kali rate hike BoJ (Desember 2025 dan Juni 2026) yang mengalir lewat lagged loan repricing dan ekspansi net interest margin domestik.
  • Bank Eropa masuk musim earnings dengan NII yang solid dari higher-for-longer, fee income yang resilient, dan NPL ratio di level historic lows.
  • Distribusi kapital lewat dividen dan buyback tetap jadi katalis utama dengan risk-adjusted return yang kompetitif.

Untuk CNH, RRR cut PBoC masih mungkin mengingat Q2 GDP China moderat ke 4,3% y/y, tapi dampaknya ke mata uang seharusnya terbatas — cut semacam itu melepas likuiditas, bukan sinyal easing agresif. Support USD/CNH ada di 6,75. Satu lagi yang layak dilirik: inflation-protected bonds AS, di mana inflation-adjusted yield sudah tembus 2,4%, mendekati level tertinggi sejak 2008.