Bumi Resources Minerals (BRMS) membukukan negative surprise pada kuartal kedua 2026 dengan mencatatkan net loss sebesar US$4.8 juta. Penurunan ini didorong oleh koreksi revenue yang cukup tajam, turun 62% YoY dan 54% QoQ, akibat kombinasi FX loss, kenaikan interest expenses, serta kendala operasional. Secara kumulatif, YTD NPAT BRMS menyusut 44% YoY menjadi US$13 juta, hanya memenuhi 13% dari estimasi untuk tahun 2026.
Ada tiga faktor utama di balik pelemahan kinerja operasional ini. Pertama, adanya pushback activity di tambang River Reef Poboya yang menyebabkan penurunan gold grade menjadi 0.9g/t (dibandingkan 1.4g/t pada Q126) dan memicu kenaikan cash cost. Kedua, koreksi harga emas global yang menekan average selling price (ASP) BRMS ke level US$4.1k/oz. Ketiga, hambatan pada penjualan emas domestik.
Kendala penjualan domestik ini memicu penumpukan inventori yang signifikan. Nilai persediaan dore bullion dan finished gold melonjak masing-masing 4x QoQ dan 26x QoQ. Akibatnya, volume penjualan emas anjlok 57% QoQ menjadi 14.8koz, sementara C1 cash cost (net of silver credit) melonjak 72% QoQ ke level US$1.2k/oz akibat negative operating leverage.
Rapor merah BRMS ini memberikan negative read-through bagi emiten tambang emas domestik lainnya seperti Aneka Tambang (ANTM) dan Merdeka Copper Gold (MDKA) yang belum merilis laporan keuangan. Risiko ROE downside kini membayangi sektor ini jika isu serapan pasar domestik terbukti persisten.
Meski demikian, prospek H226 diperkirakan membaik seiring selesainya aktivitas pushback dan target peningkatan kembali gold grade. BRMS juga telah mengamankan offtake agreement dengan ANTM serta menargetkan penyelesaian upgrade kapasitas pabrik emas dari 500tpd menjadi 2,000tpd pada Q426. Target harga SOTP-based berada di level Rp695 per saham dengan rekomendasi Neutral, merefleksikan valuasi yang sudah cukup priced-in terhadap potensi monetisasi aset tembaga ke depan.