Perdebatan mengenai “money printing” sering berpusat pada Federal Reserve dan Bank of Japan. Namun, pertumbuhan broad money sejak Januari 2004 memberikan gambaran berbeda. M2 Kanada meningkat sekitar 368%, tertinggi di antara negara G7 dan jauh di atas Amerika Serikat yang tumbuh 279%.
Prancis menempati posisi berikutnya dengan ekspansi 258%, sedangkan kawasan euro mencatat 211,4%. Pertumbuhan M2 Jerman mencapai 194% dan Italia 165%. Jepang justru berada di posisi terbawah dengan kenaikan hanya 89,5% dalam sekitar 22 tahun, meskipun Bank of Japan menjalankan quantitative easing dalam skala besar selama beberapa dekade.
Perbedaan tersebut menegaskan bahwa ekspansi neraca bank sentral tidak otomatis menghasilkan pertumbuhan broad money. QE terutama menciptakan base money dan reserves di sistem perbankan. Agar likuiditas mengalir ke ekonomi, dibutuhkan bank lending, permintaan kredit sektor swasta, atau fiscal deficit yang akhirnya masuk sebagai deposito. Jepang memiliki stimulus moneter agresif, tetapi transmisi kreditnya relatif lemah. Sebaliknya, Kanada dan AS mengalami kombinasi pertumbuhan kredit serta belanja fiskal yang lebih kuat.
Arah terbaru AS juga relevan bagi pasar. M2 telah menembus US$23 triliun dan tumbuh pada laju tahunan tercepat sejak 2022. Ini mengindikasikan fase kontraksi moneter setelah pandemi telah berakhir. Kembalinya ekspansi likuiditas saat inflasi jasa belum sepenuhnya turun dapat membuat proses disinflasi lebih lambat sekaligus menopang nominal growth, corporate earnings, dan valuasi aset berisiko.
Dalam jangka panjang, kenaikan stok uang memperkuat dasar debasement trade. Broad money di banyak ekonomi G7 telah bertambah beberapa kali lipat, sedangkan pasokan emas global hanya meningkat sekitar 1,5% per tahun. Repricing emas dan hard assets karena itu tidak selalu mencerminkan speculative rally; sebagian merupakan perubahan nilai denominator ketika jumlah mata uang berkembang lebih cepat daripada pasokan aset langka.
Implikasinya meluas ke saham komoditas, produsen emas, energi, dan bisnis dengan pricing power. Meski demikian, M2 merupakan slow-moving variable, bukan indikator entry atau exit jangka pendek. Yield obligasi, real rates, pertumbuhan laba, valuasi, dan positioning tetap lebih efektif untuk market timing. Data M2 lebih berguna sebagai kerangka alokasi aset jangka panjang: semakin cepat fiat liquidity bertambah, semakin kuat alasan mempertahankan eksposur pada real assets dan perusahaan yang mampu meneruskan inflasi ke harga jual.