ANTM membukukan net profit 2Q26 sebesar Rp3,0 triliun — turun 12,5% q-q, tapi naik 16,2% y-y dan 7% di atas estimasi. Angka ini membawa 1H26 earnings ke Rp6,4 triliun, atau sekitar 70% dari full-year forecast — jauh lebih cepat dari pace normal. Secara top-line, revenue 2Q26 mencapai Rp33,4 triliun (+13,9% q-q; +1,6% y-y), dengan 1H26 revenue di Rp62,7 triliun (+6,3% y-y).
Yang menarik dari hasil ini adalah bagaimana segmen nickel benar-benar menjadi penyelamat ketika gold margin mengalami normalisasi. Nickel ore ASP melonjak ke US$80/ton (+18,7% q-q; +44,1% y-y) — kemungkinan besar ditopang oleh floor HPM yang lebih tinggi di bawah mekanisme baru. Hasilnya, nickel net profit margin ekspansi ke 54,5% (+410bps q-q). Sementara itu, gold ASP turun ke US$4.753/oz (-9,2% q-q) mengikuti normalisasi harga emas global, menekan gold NPM ke hanya 4,4% — turun 610bps dari kuartal sebelumnya.
Volume juga mixed. Gold sales volume memang naik 13,6% q-q ke 9,6 ton, tapi secara y-y masih anjlok 38,2%. Di sisi nickel, ore sales volume relatif stagnan di 3,4 juta ton (-1,0% q-q). Ferronickel sales justru melonjak 71,3% q-q ke 4.802 ton — tapi ini lebih mencerminkan timing pengiriman ketimbang akselerasi demand yang sesungguhnya.
Dari sisi segmen, kontributor terbesar earnings tetap nickel: net profit segmen ini naik 44% q-q ke Rp3,2 triliun. Bauxite & alumina juga tumbuh solid secara y-y, dengan 1H26 segment revenue naik 28,3%. Gold masih dominan di top-line (sekitar 80% dari total revenue), tapi kontribusi profitnya tergerus signifikan di kuartal ini.
Forward-looking, ada satu risiko yang perlu diperhatikan serius: gold supply outlook untuk 2H26 terlihat terbatas. Total gold sales 1H26 baru mencapai 18,1 ton, sementara pasokan dari Freeport untuk full year 2026 diperkirakan hanya 12–15 ton. Artinya, ruang untuk volume recovery di 2H26 sangat sempit. Domestic gold demand pun belum pulih secara meaningful meski harga emas global sudah cukup kuat. Ditambah lagi, kebijakan export duty emas yang baru berpotensi mendorong lebih banyak supply tertahan di dalam negeri — yang bisa berdampak dua arah terhadap harga dan volume jual ANTM.
Untuk full year 2026, revenue forecast dipatok di Rp113,3 triliun dengan net profit Rp9,0 triliun. Pada harga saham saat ini di Rp3.160, ANTM diperdagangkan di PER 10x FY26F — masih di bawah rata-rata peer global yang berada di kisaran 12–13x. Target price Rp4.800 mengimplikasikan upside sekitar 51,9%, dengan ROAE diproyeksikan mencapai 24,5% di 2026 dan naik ke 29,1% di 2028.
Katalis paling kritis untuk dimonitor adalah kinerja 3Q26: apakah recovery harga emas bisa benar-benar ditranslasikan ke permintaan domestik yang lebih kuat, dan apakah nickel ASP bisa sustain di level tinggi seiring dinamika HPM. Kalau kedua variabel ini bergerak positif secara bersamaan, angka full-year bisa terlampaui — tapi kalau gold volume kembali mengecewakan, earnings momentum bisa kehilangan steam lebih cepat dari yang diperkirakan.