Langsung ke konten utama

Komoditas 2026: Tidak Semua Bullish, Pasar Mulai Sangat Selektif

 

Komoditas 2026: Tidak Semua Bullish, Pasar Mulai Sangat Selektif

Tahun 2026 menjadi salah satu periode paling menarik untuk membaca siklus komoditas. Setelah rally kuat di awal tahun, banyak investor mulai bertanya: apakah ini awal dari supercycle baru, atau hanya efek sementara dari geopolitik, pelemahan dolar AS, dan fund flow yang masuk ke aset riil?

Jawabannya tidak sesederhana “semua komoditas bullish”.

Berdasarkan outlook Macquarie, pasar komoditas saat ini sedang masuk fase yang sangat selektif. Ada komoditas yang didukung oleh defisit struktural, ada yang naik karena supply shock, tetapi ada juga yang tetap rawan koreksi karena fundamental supply-demand-nya masih longgar.

Driver Utama: USD Lemah, Middle East Risk, dan Fund Flow

Ada beberapa faktor utama yang mendorong harga komoditas naik pada awal 2026.

Pertama, pelemahan USD. Ketika dolar AS melemah, minat investor terhadap aset riil seperti komoditas biasanya meningkat. Komoditas menjadi salah satu pilihan hedge terhadap pelemahan mata uang dan risiko inflasi.

Kedua, risiko geopolitik Middle East, terutama terkait potensi gangguan di Strait of Hormuz. Ini bukan hanya cerita minyak. Jika jalur tersebut terganggu, dampaknya bisa merembet ke LNG, petrokimia, aluminium, urea, sulphur, hingga thermal coal.

Ketiga, fund flow ke komoditas. Banyak harga komoditas naik bukan hanya karena demand fisik yang kuat, tetapi juga karena positioning investor. Artinya, jika fund flow keluar, sebagian komoditas yang fundamentalnya tidak kuat bisa mengalami koreksi tajam.

Keempat, China masih belum menjadi mesin permintaan yang solid. Sektor properti China masih lemah, fixed asset investment belum kuat, dan pembeli China sangat sensitif terhadap harga. Ini menjadi penahan bagi beberapa komoditas seperti iron ore, copper, zinc, dan steel.

Kelima, energy transition tetap menjadi tema struktural. Permintaan jangka panjang untuk logam tertentu seperti copper, aluminium, lithium, nickel, silver, dan tin masih ditopang oleh elektrifikasi, EV, power grid, renewable energy, dan energy storage.

Komoditas Paling Menarik: Aluminium, Tin, Gold, dan Silver

Dari seluruh komoditas yang dibahas, beberapa terlihat lebih menarik karena memiliki kombinasi supply shock, defisit struktural, atau fungsi hedge makro.

Aluminium: Defisit karena Gangguan Middle East

Aluminium menjadi salah satu komoditas yang cukup menarik karena punya eksposur besar terhadap risiko Middle East. Macquarie memperkirakan adanya potensi pemotongan kapasitas aluminium di kawasan tersebut, yang cukup untuk membawa pasar global masuk ke defisit pada 2026.

Ini membuat aluminium berbeda dari sebagian base metals lain. Jika banyak komoditas naik karena fund flow, aluminium punya tambahan katalis berupa risiko gangguan pasokan nyata.

Bagi Indonesia, ini juga penting karena Indonesia mulai naik kelas dalam rantai pasok aluminium dan alumina. Beberapa proyek smelter dan alumina domestik berpotensi membuat Indonesia semakin relevan dalam peta supply global.

Tin: Pasar Kecil, Stok Rendah, Defisit Struktural

Tin juga termasuk salah satu komoditas yang menarik. Pasarnya kecil, supply terbatas, dan balance masih cenderung defisit.

Dalam siklus komoditas, pasar kecil seperti tin bisa bergerak sangat agresif ketika ada gangguan supply atau perbaikan demand dari sektor elektronik dan semiconductor. Karena stok relatif rendah, ruang untuk lonjakan harga tetap terbuka.

Gold: Hedge terhadap Fiscal Risk dan Fiat Debasement

Gold masih menjadi aset penting dalam kondisi makro saat ini. Narasinya bukan hanya inflasi, tetapi juga risiko fiskal negara maju, tingginya utang, dan kekhawatiran terhadap kredibilitas mata uang fiat.

Dalam kondisi investor makin sensitif terhadap credit risk, gold kembali dipandang sebagai aset yang tidak punya risiko gagal bayar. Ini menjelaskan kenapa gold tetap menarik sebagai hedge portofolio, meskipun pergerakannya bisa volatile ketika ekspektasi suku bunga berubah.

Silver: Bullish, tetapi Lebih Volatile

Silver punya dua karakter: precious metal sekaligus industrial metal. Karena itu, silver bisa bergerak lebih agresif dibanding gold saat sentimen ke logam mulia dan energy transition sedang kuat.

Namun risikonya juga lebih tinggi. Silver sangat sensitif terhadap fund flow, positioning investor, dan perubahan ekspektasi terhadap demand industri seperti solar, elektronik, dan otomotif.

Komoditas Selektif: Nickel, Copper, dan Thermal Coal

Tidak semua komoditas dalam kategori ini jelek. Justru beberapa tetap menarik, tetapi perlu pendekatan lebih selektif.

Nickel: Indonesia Menjadi Swing Factor Dunia

Nickel adalah bagian paling penting untuk Indonesia.

Macquarie melihat bahwa kebijakan RKAB Indonesia menjadi faktor kunci untuk supply nickel global. Pemerintah Indonesia memberi indikasi pembatasan produksi nickel ore, dan Macquarie mengasumsikan penurunan sekitar 10% dari produksi aktual 2025.

Ini mengubah outlook nickel. Setelah oversupply besar pada 2024–2025, pasar mulai lebih seimbang pada 2026. Harga nickel juga mendapat cost support dari kenaikan harga ore.

Namun nickel belum bisa disebut super bullish secara umum. Penyebabnya, supply Indonesia tetap besar, proyek HPAL terus tumbuh, dan demand baterai nickel mendapat tekanan dari dominasi LFP/LMFP. Stainless steel masih menjadi driver utama demand nickel, bukan baterai.

Implikasinya untuk saham Indonesia: emiten dengan resource ore kuat akan lebih menarik dibanding pemain smelter yang margin-nya sangat bergantung pada harga ore dan biaya produksi. Tema ini relevan untuk ekosistem nickel seperti INCO, ANTM, NCKL, MBMA, HRUM, dan pemain terkait lainnya.

Copper: Bullish Jangka Panjang, tetapi Near-Term Sudah Mahal

Copper tetap punya cerita struktural yang kuat. Energy transition, power grid, EV, data center, dan elektrifikasi semua membutuhkan copper.

Namun untuk jangka pendek, Macquarie memberi sinyal hati-hati. Harga copper sempat rally kuat karena money flow, tetapi stok LME dan COMEX berada di level tinggi. Physical premium juga belum menunjukkan demand fisik yang sangat kuat.

Artinya, copper tetap menarik untuk jangka panjang, tetapi secara tactical market sudah banyak mendahului fundamental.

Thermal Coal: Tactical Upside jika Gas Terganggu

Thermal coal masih punya peluang tactical upside jika krisis energi berlanjut. Jika harga gas naik atau supply gas terganggu akibat konflik Middle East, beberapa negara bisa kembali meningkatkan utilisasi pembangkit coal.

Namun ini bukan berarti thermal coal masuk supercycle baru. China dan India tetap berusaha mengurangi ketergantungan impor melalui produksi domestik. Jadi upside coal lebih bersifat tactical, bukan struktural panjang.

Untuk Indonesia, ini tetap relevan bagi emiten seperti ITMG, PTBA, ADRO, HRUM, dan BUMI. Tetapi investor perlu memperhatikan ASP, volume produksi, cost, DMO, kontrak, serta kebijakan RKAB.

Komoditas yang Harus Diwaspadai: Lithium, Iron Ore, Zinc, dan Lead

Kategori ini bukan berarti tidak bisa naik. Namun secara fundamental, risikonya lebih besar karena balance pasar cenderung longgar atau demand utama sedang melemah.

Lithium: Demand Bagus, Supply Terlalu Cepat

Lithium masih punya demand story yang kuat dari EV dan energy storage. Namun masalah utamanya adalah supply tumbuh terlalu cepat.

Harga lithium yang sempat pulih justru memotivasi tambahan produksi dari Australia, Argentina, Afrika, dan China. Akibatnya, pasar masih berisiko surplus dalam beberapa tahun ke depan.

Dengan kata lain, demand lithium bagus, tetapi supply response terlalu agresif.

Iron Ore: Tertekan Lemahnya Properti China

Iron ore masih sangat bergantung pada China, terutama sektor properti dan konstruksi. Selama properti China belum pulih kuat, sulit bagi iron ore untuk punya bull case struktural yang solid.

Harga bisa naik karena stimulus, konflik, freight, atau isu supply jangka pendek. Namun tanpa pemulihan properti China, upside iron ore cenderung terbatas.

Zinc: Menuju Surplus

Zinc menghadapi risiko surplus karena mine supply mulai naik dan stok mulai build. Walaupun sempat ada minat investor karena tightness ex-China, fundamental jangka menengah terlihat lebih berat.

Ketika stok naik dan supply tambang bertambah, harga biasanya akan menghadapi tekanan.

Lead: Demand Melemah

Lead juga kurang menarik secara struktural. Salah satu alasannya adalah jumlah kendaraan ICE global diperkirakan sudah mencapai puncak. Karena lead banyak digunakan pada aki kendaraan konvensional, perubahan struktur pasar otomotif bisa menekan demand jangka panjang.

Macquarie melihat pasar lead cenderung mengalami surplus moderat sepanjang dekade ini.

Implikasi untuk Indonesia

Bagi pasar saham Indonesia, outlook ini sangat penting karena IHSG punya banyak emiten yang sensitif terhadap siklus komoditas.

Ada beberapa implikasi utama.

Pertama, nickel tetap menjadi tema strategis Indonesia. Indonesia adalah swing factor supply nickel dunia. Kebijakan RKAB, harga ore, royalti, dan aturan ekspor akan sangat memengaruhi outlook emiten nickel.

Kedua, aluminium mulai layak diperhatikan. Jika gangguan Middle East berlanjut dan pasar aluminium masuk defisit, ekosistem aluminium/alumina Indonesia bisa mulai mendapat perhatian lebih besar.

Ketiga, coal masih punya peluang tactical upside. Namun investor perlu membedakan antara kenaikan harga karena krisis energi jangka pendek dan tren jangka panjang yang lebih menantang.

Keempat, gold dan silver tetap penting sebagai hedge makro. Dalam dunia dengan risiko fiskal tinggi, perang, pelemahan fiat, dan volatilitas suku bunga, precious metals masih punya tempat dalam portofolio.

Kelima, jangan pukul rata semua komoditas. Ini poin paling penting. Tahun 2026 bukan tahun untuk membeli semua saham komoditas secara membabi buta. Yang paling menarik adalah komoditas dengan defisit struktural, supply shock, atau cost support kuat.

Kesimpulan

Tahun 2026 adalah tahun komoditas yang sangat selektif.

Rally awal tahun memang kuat, tetapi tidak semua komoditas memiliki fundamental yang sama. Sebagian naik karena geopolitik dan fund flow. Sebagian benar-benar ditopang oleh defisit supply. Sebagian lain masih rawan koreksi karena surplus dan demand yang lemah.

Peta besarnya bisa diringkas seperti ini:

Paling menarik: aluminium, tin, gold, silver.
Selektif: nickel, copper, thermal coal.
Perlu diwaspadai: lithium, iron ore, zinc, lead.

Untuk investor saham Indonesia, fokus utama sebaiknya bukan hanya “harga komoditas naik”, tetapi mencari emiten yang punya posisi terbaik dalam rantai supply, cost structure kuat, balance sheet sehat, dan katalis yang jelas.

Karena dalam siklus komoditas 2026, pemenangnya bukan semua pemain. Pemenangnya adalah mereka yang berada di komoditas dengan supply shock, defisit struktural, dan leverage paling sehat terhadap harga.