Langsung ke konten utama

Oil Higher for Longer: Ketika Selat Hormuz Menjadi Titik Pecah Keseimbangan Energi Global

Pasar minyak global kembali masuk ke fase yang sangat sensitif. Bukan hanya karena harga minyak naik, tetapi karena sumber masalahnya berasal dari sisi pasokan: perang, gangguan jalur logistik, kerusakan infrastruktur energi, dan risiko berkepanjangan di Selat Hormuz.

Banyak analyst memberikan outtlook sektor oil & gas menjadi OVERWEIGHT. Asumsi harga minyak 2026 juga dinaikkan cukup agresif dari USD65/barel menjadi USD100/barel. Ini menandakan bahwa pasar tidak lagi hanya membaca kenaikan minyak sebagai shock sementara, tetapi mulai melihat adanya risiko struktural: suplai energi global bisa ketat lebih lama dari perkiraan.

Oil Higher for Longer: Ketika Selat Hormuz Menjadi Titik Pecah Keseimbangan Energi Global


Selat Hormuz: Titik Kecil yang Mengendalikan Pasar Energi Dunia

Selat Hormuz adalah salah satu jalur energi paling vital di dunia. Lebih dari 20% aliran minyak dan LNG globalmelewati jalur ini. Ketika jalur ini terganggu, efeknya langsung terasa ke harga minyak, LNG, ongkos pengiriman, asuransi kapal, hingga inflasi global.

Konflik AS–Iran yang meningkat sejak akhir Februari 2026 membuat jalur ini tidak lagi dianggap aman. Banyak kapal tanker terpaksa berhenti, lalu lintas menurun drastis, dan risiko pengiriman melonjak. trafik tanker sempat sangat terbatas, hanya sekitar 10 kapal per hari, atau sekitar 8% dari kondisi normal.

Artinya, pasar minyak tidak lagi hanya menghitung “kemungkinan gangguan”, tetapi mulai menghitung realitas bahwa pasokan memang terhambat.

Minyak Naik Bukan Karena Demand, Tapi Karena Supply Shock

Kenaikan harga minyak kali ini berbeda dengan kenaikan akibat pemulihan ekonomi. Ini lebih mirip supply shock.

Beberapa gangguan yang disorot dalam laporan antara lain:

Pertama, gangguan terhadap produksi dan ekspor minyak dari kawasan Teluk. BCA Sekuritas memperkirakan sekitar 12 juta barel setara minyak per hari terdampak secara langsung, atau sekitar 6% dari suplai global.

Kedua, kapasitas infrastruktur penting ikut terganggu, termasuk kilang, pipeline, pelabuhan ekspor, dan fasilitas LNG.

Ketiga, meskipun ada jalur alternatif seperti pipeline Saudi East-West dan Fujairah di UAE, kapasitasnya tetap terbatas. Jalur alternatif tidak cukup untuk menggantikan peran Hormuz sepenuhnya.

Dari sisi keseimbangan global, laporan tersebut menggambarkan kondisi yang sangat ketat: suplai global berada di sekitar 97 juta barel per hari, sementara demand masih di atas 100 juta barel per hari. Jika gap ini bertahan, harga minyak berpotensi tetap tinggi lebih lama.

Kenapa Harga Minyak Bisa Bertahan Tinggi?

Ada tiga alasan utama.

Pertama, gangguan pasokan belum sepenuhnya tercermin dalam harga spot. Menurut BCA Sekuritas, harga saat ini lebih banyak mencerminkan pricing di forward market, sementara dampak fisik terhadap pasokan kemungkinan baru terasa lebih jelas dalam beberapa bulan ke depan.

Kedua, cadangan strategis hanya memberi bantuan sementara. Jika konflik berlarut, pelepasan cadangan minyak dari negara konsumen besar hanya menjadi jembatan jangka pendek. Spare capacity juga berisiko terkuras dalam 2–3 bulan sejak konflik dimulai.

Ketiga, perbaikan infrastruktur energi butuh waktu lama. Jika kilang, terminal, pipeline, atau fasilitas LNG rusak, suplai tidak bisa langsung pulih walaupun perang mereda.

Inilah alasan utama mengapa narasi yang muncul adalah higher for longer: harga minyak bukan hanya naik tinggi, tetapi berpotensi bertahan tinggi lebih lama.