Geopolitik, Likuiditas, dan Rotasi Besar Pasar Global 2026 Awal 2026 dibuka dengan kombinasi yang jarang terjadi: geopolitik memanas, sinyal sell muncul, tapi pasar belum runtuh. Michael Hartnett (BofA) menyebut kondisi ini sebagai fase anomali: “Normally this would be the time to sell… but not this time.” Kenapa? Karena pasar saat ini bukan sedang menuju crash , melainkan berpindah rezim . 1. “Race for the Arctic”: Ketika Geopolitik Menjadi Tradeable Theme Lonjakan harga saham Bank of Greenland hingga +33% hanya dalam 4 hari adalah sinyal penting. Bukan karena fundamental bank tiba-tiba membaik, melainkan karena pasar sedang mem-price-in geopolitik sebagai aset . Apa yang terjadi? Investor global mulai mengejar proxy geopolitik Greenland dipersepsikan sebagai: Gerbang Arctic Simpul geopolitik AS–Rusia–China Area strategis energi & mineral Pelajaran penting: Pasar tidak menunggu kepastian. Pasar men-trade probabilitas . Dan ketika tema geopo...
Target free float dinaikkan bertahap dari saat ini 7,5% → 10–15% Indonesia sedang berpindah dari retail-driven, low-float market menuju institutionally investable market. Dengan aturan baru ini estimasi tingkatkan likuditas pasar, kepemilikan institusi akan naik, Kurangi price manipulation, Saham large cap bakal diuntungkan, Daya tarik ke investor global meningkat, Standar free float lebih selaras dengan praktik global (MSCI, FTSE), Potensi kenaikan bobot indeks Retail sekarang menguasai >50% kepemilikan saham di BEI, bahkan lebih besar dari gabungan institusi. Dengan aturan baru ini kepemilikan institusi estimasi akan naik & mengurangi price manipulation Bobot Indonesia di MSCI EM <1,3%. Turun jauh dari puncak 2,2% (2022). Likuiditas tidak cukup “institutionally scalable”. Indonesia akan selalu jadi “adjustment bucket” bagi fund global. Inilah alasan fundamental kenapa reformasi free float jadi krusial. Reformasi free float adalah jembatan agar Bull market retail berub...