Langsung ke konten utama

Postingan

Bad Oil Rally: Kenapa Saat Harga Minyak Meroket, Portofolio Saham Justru "Kebakaran"?

Pernahkah Anda melihat harga minyak dunia melesat, tapi bukannya ikut senang, pasar saham justru memerah berjamaah? Di atas kertas, kenaikan harga komoditas sering dianggap sebagai tanda ekonomi bergairah. Namun, kenyataannya tidak selalu seindah itu. Saat ini, kita sedang berada di tengah fenomena yang disebut "Bad Oil Rally." Sebuah kondisi di mana lonjakan harga energi bukan menjadi bahan bakar pertumbuhan, melainkan racun bagi pasar modal. Tidak Semua Kenaikan Minyak Itu Sama Berdasarkan analisis J.P. Morgan , kita harus bisa membedakan dua "rezim" kenaikan harga minyak agar tidak salah ambil posisi: 1. Demand-Driven Rally (Si Hijau yang Bullish) Ini terjadi saat ekonomi dunia sedang kuat-kuatnya. Pabrik beroperasi penuh, orang-orang bepergian, dan konsumsi energi meningkat. Logikanya: Permintaan ↑ = Produksi ↑ = Profit Perusahaan ↑. Dampak: Minyak naik, saham ikut terbang. 2. Supply Shock (Si Merah yang Bearish) Inilah yang kita hadapi sekara...
Postingan terbaru

Drawdown Itu Pasti: Harga yang Harus Dibayar untuk Compounding

  Drawdown tahunan itu pasti terjadi, Bahkan di tahun pasar saham bullish, tetap ada penurunan. Banyak orang ingin profit, tapi tidak siap melihat portofolio turun di tengah jalan. Padahal, keduanya datang dalam satu paket. Di pasar saham, volatilitas bukan risiko itu harga yang harus dibayar untuk compounding. Jika anda stress melihat portofolio anda turun 5% artinya saham tidak cocok untuk anda.

Brent Tembus $109: Awal Krisis Energi Baru dan Tekanan Besar ke Pasar Saham

  MARKET SELL-OFF : Harga oil semakin meroket brent > $109 Sentimen risiko memburuk setelah konflik meningkat ke level infrastruktur energi, dengan Israel menyerang ladang gas South Pars milik Iran. kondisi ini menandai serangan langsung pertama ke aset hulu minyak & gas dalam perang ini. Kondisi saat ini menandai perubahan rezim (regime shift), karena sebelumnya serangan hanya terbatas pada target militer, sehingga kini risiko gangguan pasokan energi global meningkat signifikan. Iran merespons agresif, menyebut situasi ini sebagai “perang ekonomi total” dan merilis daftar fasilitas energi di Arab Saudi, Qatar, dan UEA sebagai target yang sah. Pasar energi bereaksi tajam, dengan Brent >$109 dan harga gas Eropa naik, karena pasar mulai meng-price in shock pasokan struktural.

Final Battle Hormuz: Penentu Nasib Dollar, Pasar, dan Kekuasaan Dunia

Semua Bermuara ke Satu Titik: Selat Hormuz Dalam banyak perang, hasilnya sering tidak jelas penuh kejutan, penuh ketidakpastian. Tapi tidak untuk konflik Iran kali ini. Ada satu titik krusial yang menentukan segalanya yaitu Selat Hormuz.  Selat sempit ini bukan sekadar jalur laut biasa.Ia adalah arteri utama energi dunia — sekitar 20% suplai minyak global melewati sini.  Siapa yang mengontrol Hormuz, mengontrol aliran energi dunia. Dalam menganalisis situasi geopolitik saat ini, melihat kembali sejarah dan membandingkannya dengan situasi analog terbukti sangat membantu kita dalam membaca arah masa depan. Saat ini, perhatian dunia tertuju pada konflik yang melibatkan Iran, di mana ada kesepakatan universal bahwa hasil akhir dari ketegangan ini sangat bergantung pada satu hal krusial yaitu siapa yang memegang kendali atas Selat Hormuz. Pertaruhan Besar bagi Tatanan Dunia dan Ekonomi Jika Iran dibiarkan memegang kendali atas siapa yang bisa melewati Selat Hormuz dan menggunakan...

Saham Oil MEDC Potensi Menguji Level Psikologis 2000

Saham oil related MEDC target 2000 ‼️ Laba dari PT Amman Mineral Internasional (AMMN) diperkirakan meningkat signifikan seiring kenaikan volume produksi tembaga dan emas. Kontribusi AMMN diperkirakan menyumbang sekitar 49–56% dari laba bersih konsolidasi MEDC pada 2026–2027. Selain itu kenaikan harga minyak global akibat ketegangan geopolitik dapat meningkatkan profitabilitas MEDC. MEDC memiliki rekam jejak positif dalam akuisisi aset migas yang menambah nilai (value-accretive M&A). Produksi minyak & gas MEDC pada tahun 2026 diperkirakan mencapai rekor tertinggi sekitar 165–170 kboepd, meningkat 6–9% YoY, didorong oleh tambahan kepemilikan di Corridor Block dan proyek baru di Blok B Natuna. MEDC potensi diuntungkan dari meroketnya harga oil

Energy Shock Playbook: Oil Spike, Equity Correction

  Data dari Deutsche Bank (DB):  Reaksi pasar saham ketika terjadi konflik geopolitik yang memicu lonjakan harga minyak.  Data historis menunjukkan ketika terjadi konflik dan shock pasokan minyak, harga minyak rata-rata naik sekitar 26.9%, sementara pasar saham mengalami penurunan sekitar -6% dengan durasi koreksi sekitar 2–3 minggu. Apakah konflik akan mereda setelah 3 minggu?

Bond Yield Naik, Saham Tertekan: Apa yang Sedang Terjadi di Pasar Indonesia?

Bond Yield Naik, Saham Tertekan: Apa yang Sedang Terjadi di Pasar Indonesia? Pasar keuangan Indonesia saat ini menghadapi tekanan dari dua arah sekaligus: kenaikan yield obligasi dan lonjakan harga minyak global . Kombinasi ini bukan hanya sekadar volatilitas jangka pendek, tetapi bisa menjadi sinyal perubahan fase siklus pasar. 1. Yield Naik = Risk Premium Meningkat Yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun kini kembali naik ke kisaran 6.8% . Kenaikan ini mengindikasikan satu hal utama: Investor mulai meminta kompensasi risiko yang lebih tinggi terhadap Indonesia. Secara mekanisme pasar: Yield naik → harga obligasi turun Cost of capital naik Valuasi aset (termasuk saham) tertekan Lebih jauh lagi, dalam konteks equity: Higher yield = higher discount rate = lower valuation Inilah alasan kenapa kenaikan yield seringkali berbanding terbalik dengan pergerakan saham. 2. Minyak Naik = Tekanan Fiskal Indonesia Lonjakan harga minyak global menjadi katalis utama di ...