Free Float Baru, Repricing Asing, dan Peluang Rebalancing 2026 Pasar saham Indonesia sedang memasuki fase penting. Bukan karena laporan keuangan, bukan karena suku bunga, melainkan karena perubahan metodologi indeks global . Investor kini mengantisipasi pengumuman MSCI terkait kebijakan baru perhitungan free float yang akan diumumkan akhir bulan ini , dengan rebalancing efektif per 1 Maret 2026 . Jika kebijakan ini disahkan, dampaknya langsung ke aliran dana asing dan berpotensi menciptakan repricing cepat pada saham-saham tertentu . Mengapa Perubahan Free Float MSCI Sangat Krusial? MSCI bukan sekadar indeks — ia adalah gerbang utama arus dana institusi global . Masalah utama Indonesia selama ini: Banyak emiten berkapitalisasi besar Tapi free float rendah Sehingga tidak “institutionally investable” Akibatnya: Bobot Indonesia di MSCI EM stagnan Dana global sulit masuk dalam skala besar Pasar didominasi pergerakan ri...
Geopolitik, Likuiditas, dan Rotasi Besar Pasar Global 2026 Awal 2026 dibuka dengan kombinasi yang jarang terjadi: geopolitik memanas, sinyal sell muncul, tapi pasar belum runtuh. Michael Hartnett (BofA) menyebut kondisi ini sebagai fase anomali: “Normally this would be the time to sell… but not this time.” Kenapa? Karena pasar saat ini bukan sedang menuju crash , melainkan berpindah rezim . 1. “Race for the Arctic”: Ketika Geopolitik Menjadi Tradeable Theme Lonjakan harga saham Bank of Greenland hingga +33% hanya dalam 4 hari adalah sinyal penting. Bukan karena fundamental bank tiba-tiba membaik, melainkan karena pasar sedang mem-price-in geopolitik sebagai aset . Apa yang terjadi? Investor global mulai mengejar proxy geopolitik Greenland dipersepsikan sebagai: Gerbang Arctic Simpul geopolitik AS–Rusia–China Area strategis energi & mineral Pelajaran penting: Pasar tidak menunggu kepastian. Pasar men-trade probabilitas . Dan ketika tema geopo...