Setelah melewati tahun 2025 yang penuh tekanan, sektor logam (metals) Indonesia kembali masuk radar investor di awal 2026. Data terbaru menunjukkan perubahan sentimen yang cukup signifikan, didorong oleh rebound harga komoditas, pergeseran fokus pasar ke risiko pasokan, serta membaiknya visibilitas laba ke depan.
2025: Tahun Transisi yang Berat
Tahun 2025 dapat disebut sebagai tahun terendah bagi sektor logam Indonesia. Beberapa faktor utama yang menekan kinerja sektor antara lain:
- Siklus capex besar di industri hilirisasi yang belum sepenuhnya menghasilkan arus kas.
- Biaya pendanaan tinggi, seiring kondisi likuiditas global yang ketat.
- Oversupply nikel, yang menekan harga dan margin smelter.
- Risiko operasional, mulai dari cuaca, logistik, kapasitas tailing, hingga pengawasan kepatuhan regulasi.
Akibatnya, pasar lebih fokus pada masalah eksekusi jangka pendek dibanding potensi struktural jangka panjang.
Awal 2026: Sentimen Berbalik Cepat
Memasuki 2026, nada pasar berubah cukup cepat. Beberapa katalis utama:
- Harga nikel rebound tajam hingga sekitar USD 18.790/ton dan naik ~30% sejak pertengahan Desember 2025.
- Partisipasi investor China meningkat, menghidupkan kembali sentimen komoditas global.
- Fokus pasar bergeser dari isu oversupply ke risiko pasokan, khususnya di Indonesia.
Rebound nikel menjadi leading signal bahwa margin sektor nikel berpotensi pulih, sekaligus memicu repricing di seluruh rantai nilai logam.
Narasi Komoditas Utama
Nikel
Walaupun stok global masih tinggi, harga justru naik. Artinya, pasar kini:
- Lebih peduli pada risiko gangguan pasokan Indonesia
- Memasukkan risk premium kebijakan ke dalam harga
- Mulai mengantisipasi pemulihan margin smelter
Tembaga
Harga tembaga mulai decouple dari pergerakan stok jangka pendek. Pasar fokus pada:
- Elektrifikasi
- Transisi energi
- Infrastruktur AI & data center
Narasi kelangkaan jangka menengah kembali dominan.
Timah
Timah tetap sangat volatil karena:
- Pasokan yang lokal dan terbatas
- Sensitivitas tinggi terhadap penegakan kebijakan
Harga mencerminkan isu disiplin suplai, bukan sekadar permintaan.
Emas
Emas tetap kuat meskipun dolar sempat menguat. Faktor pendorong utama:
- Ketegangan geopolitik global
- Fungsi emas sebagai safe haven
- Risk premium geopolitik yang makin dihargai pasar
Indonesia: Kebijakan Jadi Katalis Utama
Fokus investor kini kembali ke eksekusi kebijakan Indonesia, khususnya:
- Timing persetujuan RKAB (Rencana Kerja dan Anggaran Biaya)
- Kelancaran utilisasi hilirisasi
- Arah regulasi lanjutan (pajak, bea ekspor produk olahan)
Walau gangguan tidak selalu merata, persepsi pengetatan suplai sudah cukup untuk mengerek sensitivitas harga dan valuasi.
Sektor ini mulai masuk fase yang lebih menarik:
- Momentum harga membaik
- Visibilitas pertumbuhan volume lebih jelas
- Diferensiasi makin jelas antara emiten dengan:
- Akses ore yang kuat
- Tata kelola yang baik
versus emiten yang rentan kebijakan dan eksekusi
Pasar mulai pricing-in earnings inflection 2026–2027, bukan lagi terjebak pada kinerja terburuk 2025.
Sektor logam Indonesia sedang berada di titik perubahan penting. Setelah melewati fase terberatnya, kombinasi rebound harga komoditas, risk premium kebijakan, dan perbaikan visibilitas laba membuat risk-reward sektor ini kembali menarik. Volatilitas tetap ada. Namun bagi investor yang berpikir siklus, 2026–2027 berpotensi menjadi fase pemulihan laba, bukan lagi tahun bertahan hidup.
