Langsung ke konten utama

Postingan

1970s Replay: Komoditas Siap Outperform Lagi

  OVERWEIGHT KOMODITAS Kita masuk fase inflasi + geopolitik + supply shock. kondisi ideal untuk commodities outperform. REMINDER  Data dari Bank of America (BofA) menunjukkan bahwa selama periode stagflasi 1970-an (1970–1979). Saat inflasi melonjak dan pertumbuhan ekonomi melemah, emas dan komoditas menjadi aset dengan performa terbaik. Emas dan komoditas masing-masing mencatat return sekitar 30,7% dan 24,1% per tahun. Periode tahun 70an terkenal karena inflasi sangat tinggi, pertumbuhan ekonomi lemah, dan shock harga minyak setelah krisis energi OPEC. Situasi global saat ini memiliki beberapa kemiripan dengan tahun 1970-an seperti Konflik geopolitik (Timur Tengah), Risiko oil shock, Inflasi energi, Ketidakpastian ekonomi global. Jika skenario stagflasi benar terjadi, maka sejarah menunjukkan komoditas dan emas cenderung outperform pasar saham.
Postingan terbaru

Bitcoin Sudah Jatuh Duluan — Apakah Ini Awal Risk-Off Global?

Saat risk off mayoritas risk asset dihajar turun. Pasar saham AS juga tidak kebal dari risiko penurunan. Saat fase risk off uang besar keluar dari aset berisiko REMINDER Bitcoin turun lebih dulu, leading indicator dari penurunan risk assets lainnya. Selama beberapa tahun terakhir, Bitcoin dan pasar saham AS bergerak hampir searah. Namun kini pola tersebut mulai berubah. Bitcoin justru melemah sementara kapitalisasi pasar saham AS masih berada di level sangat besar sekitar $69 triliun. Pelemahan Bitcoin saat ini bisa menjadi sinyal awal bahwa siklus risk asset mulai berbalik. Semua kelas aset saling berkorelasi. Pergerakan satu aset dapat memicu dampak berantai or efek domino ke aset lainnya. Contoh sederhana, ketika harga oil meroket, dampaknya bisa meluas ke berbagai sektor—mulai dari inflasi, suku bunga, hingga pergerakan saham dan obligasi. Karena itu, jangan berpikir bahwa satu kelas aset bisa berdiri sendiri dan tidak terpengaruh oleh pergerakan aset lainnya.

Higher for Longer Oil: MEDC di Posisi Paling Diuntungkan

HIGHER FOR LONGER SCENARIO UNTUK OIL Pasar awalnya berharap perang Iran cepat selesai. Tapi sekarang realitanya berubah. Bank of America (BofA) melihat skenario terbaik (quick resolution) justru makin kecil kemungkinannya. Sebaliknya, baseline baru konflik yang berlangsung lebih lama, dengan gangguan pasokan minyak akan berlanjut sampai 2Q 2026. Bahkan ada risiko eskalasi sampai 3Q–4Q 2026 Jika harga oil tetap tinggi dalam waktu lama yang diuntungkan saham oil related seperti MEDC MEDC’s oil price sensitivity : Semakin tinggi harga oil, MEDC semakin cuan lebar

Dunia Terlalu Banyak Utang — Itulah Kenapa Emas Terus Naik

Gold naik sangat kuat sejak 2023–2026. Ada koreksi jangka pendek di ujung kanan. Market berpikir potensi inflasi naik, central bank akan naikkan suku bunga dan membuat gold turun.  Ada misunderstanding sistem moneter modern. Market masih berpikir central bank bisa mengetatkan kebijakan. Padahal realitanya dunia terlalu penuh utang.  Contohnya utang AS tembus $39 triliun. Dengan bunga > $1T per tahun. Suku bunga tinggi tidak akan mampu ditanggung AS. Setiap krisis akan dijawab dengan printing money. Dan dalam sistem seperti ini, emas bukan pilihan tapi kebutuhan. Total utang pemerintah AS sudah sentuh $39 triliun dengan bunga (Interest cost) >$1 triliun per tahun. Kalau The Fed naikkan suku bunga dampaknya Yield obligasi naik, Interest cost (biaya bunga utang AS) ikut naik.  Artinya, setiap kenaikan suku bunga justru mempercepat pertumbuhan utang itu sendiri. Di titik tertentu, sistem tidak bisa menahan tekanan ini terlalu lama. Dan ketika itu terjadi, pili...

Bad Oil Rally: Kenapa Saat Harga Minyak Meroket, Portofolio Saham Justru "Kebakaran"?

Pernahkah Anda melihat harga minyak dunia melesat, tapi bukannya ikut senang, pasar saham justru memerah berjamaah? Di atas kertas, kenaikan harga komoditas sering dianggap sebagai tanda ekonomi bergairah. Namun, kenyataannya tidak selalu seindah itu. Saat ini, kita sedang berada di tengah fenomena yang disebut "Bad Oil Rally." Sebuah kondisi di mana lonjakan harga energi bukan menjadi bahan bakar pertumbuhan, melainkan racun bagi pasar modal. Tidak Semua Kenaikan Minyak Itu Sama Berdasarkan analisis J.P. Morgan , kita harus bisa membedakan dua "rezim" kenaikan harga minyak agar tidak salah ambil posisi: 1. Demand-Driven Rally (Si Hijau yang Bullish) Ini terjadi saat ekonomi dunia sedang kuat-kuatnya. Pabrik beroperasi penuh, orang-orang bepergian, dan konsumsi energi meningkat. Logikanya: Permintaan ↑ = Produksi ↑ = Profit Perusahaan ↑. Dampak: Minyak naik, saham ikut terbang. 2. Supply Shock (Si Merah yang Bearish) Inilah yang kita hadapi sekara...

Drawdown Itu Pasti: Harga yang Harus Dibayar untuk Compounding

  Drawdown tahunan itu pasti terjadi, Bahkan di tahun pasar saham bullish, tetap ada penurunan. Banyak orang ingin profit, tapi tidak siap melihat portofolio turun di tengah jalan. Padahal, keduanya datang dalam satu paket. Di pasar saham, volatilitas bukan risiko itu harga yang harus dibayar untuk compounding. Jika anda stress melihat portofolio anda turun 5% artinya saham tidak cocok untuk anda.

Brent Tembus $109: Awal Krisis Energi Baru dan Tekanan Besar ke Pasar Saham

  MARKET SELL-OFF : Harga oil semakin meroket brent > $109 Sentimen risiko memburuk setelah konflik meningkat ke level infrastruktur energi, dengan Israel menyerang ladang gas South Pars milik Iran. kondisi ini menandai serangan langsung pertama ke aset hulu minyak & gas dalam perang ini. Kondisi saat ini menandai perubahan rezim (regime shift), karena sebelumnya serangan hanya terbatas pada target militer, sehingga kini risiko gangguan pasokan energi global meningkat signifikan. Iran merespons agresif, menyebut situasi ini sebagai “perang ekonomi total” dan merilis daftar fasilitas energi di Arab Saudi, Qatar, dan UEA sebagai target yang sah. Pasar energi bereaksi tajam, dengan Brent >$109 dan harga gas Eropa naik, karena pasar mulai meng-price in shock pasokan struktural.

Final Battle Hormuz: Penentu Nasib Dollar, Pasar, dan Kekuasaan Dunia

Semua Bermuara ke Satu Titik: Selat Hormuz Dalam banyak perang, hasilnya sering tidak jelas penuh kejutan, penuh ketidakpastian. Tapi tidak untuk konflik Iran kali ini. Ada satu titik krusial yang menentukan segalanya yaitu Selat Hormuz.  Selat sempit ini bukan sekadar jalur laut biasa.Ia adalah arteri utama energi dunia — sekitar 20% suplai minyak global melewati sini.  Siapa yang mengontrol Hormuz, mengontrol aliran energi dunia. Dalam menganalisis situasi geopolitik saat ini, melihat kembali sejarah dan membandingkannya dengan situasi analog terbukti sangat membantu kita dalam membaca arah masa depan. Saat ini, perhatian dunia tertuju pada konflik yang melibatkan Iran, di mana ada kesepakatan universal bahwa hasil akhir dari ketegangan ini sangat bergantung pada satu hal krusial yaitu siapa yang memegang kendali atas Selat Hormuz. Pertaruhan Besar bagi Tatanan Dunia dan Ekonomi Jika Iran dibiarkan memegang kendali atas siapa yang bisa melewati Selat Hormuz dan menggunakan...

Saham Oil MEDC Potensi Menguji Level Psikologis 2000

Saham oil related MEDC target 2000 ‼️ Laba dari PT Amman Mineral Internasional (AMMN) diperkirakan meningkat signifikan seiring kenaikan volume produksi tembaga dan emas. Kontribusi AMMN diperkirakan menyumbang sekitar 49–56% dari laba bersih konsolidasi MEDC pada 2026–2027. Selain itu kenaikan harga minyak global akibat ketegangan geopolitik dapat meningkatkan profitabilitas MEDC. MEDC memiliki rekam jejak positif dalam akuisisi aset migas yang menambah nilai (value-accretive M&A). Produksi minyak & gas MEDC pada tahun 2026 diperkirakan mencapai rekor tertinggi sekitar 165–170 kboepd, meningkat 6–9% YoY, didorong oleh tambahan kepemilikan di Corridor Block dan proyek baru di Blok B Natuna. MEDC potensi diuntungkan dari meroketnya harga oil