Langsung ke konten utama

Postingan

Memahami Siklus Ekonomi & Rotasi Sektor

Pasar saham  tidak bergerak secara acak . Di balik fluktuasi harga, terdapat pola besar yang berulang:  siklus ekonomi . Ekonomi bergerak dari fase  pertumbuhan → puncak → perlambatan/resesi → pemulihan , lalu kembali lagi ke pertumbuhan. Siklus ini sangat krusial karena  laba korporasi —faktor utama penggerak harga saham—sangat bergantung pada kondisi ekonomi. Di sinilah konsep  Rotasi Sektor  menjadi penting. Rotasi sektor terjadi ketika investor memindahkan dana dari satu sektor ke sektor lain berdasarkan  ekspektasi tahap ekonomi berikutnya . Investor institusi biasanya bergerak lebih awal, sehingga memahami pola ini memberi keunggulan strategis bagi investor ritel.  1. Tahap Pemulihan (Awal Pertumbuhan) Ini adalah fase ketika ekonomi mulai bangkit dari resesi. Likuiditas mulai mengalir, suku bunga cenderung rendah, dan sentimen pasar berubah dari pesimis menjadi optimistis. Sektor Finansial Biasanya menjadi pemimpin awal . Suku bunga rendah ...
Postingan terbaru

Dana Asing Membanjiri Saham Komoditas Indonesia

  Dana Asing Membanjiri Saham Komoditas Indonesia. Emiten berbasis komoditas mendominasi pembelian dana asing. Lima saham dengan arus dana asing masuk paling konsisten adalah ANTM, ASII, PTRO, INCO, dan MDKA.

Rotasi Sedang Terjadi..

  ROTASI SEDANG TERJADI Emerging Markets (EM) mengungguli Developed Markets (DM) untuk pertama kalinya sejak pandemi covid. Investor mulai meninggalkan saham growth mahal masuk ke value stocks

Saham-Saham Kandidat Masuk MSCI Indonesia

  Free Float Baru, Repricing Asing, dan Peluang Rebalancing 2026 Pasar saham Indonesia sedang memasuki fase penting. Bukan karena laporan keuangan, bukan karena suku bunga, melainkan karena  perubahan metodologi indeks global . Investor kini mengantisipasi  pengumuman MSCI terkait kebijakan baru perhitungan free float  yang akan diumumkan  akhir bulan ini , dengan  rebalancing efektif per 1 Maret 2026 . Jika kebijakan ini disahkan, dampaknya  langsung ke aliran dana asing  dan berpotensi menciptakan  repricing cepat pada saham-saham tertentu . Mengapa Perubahan Free Float MSCI Sangat Krusial? MSCI bukan sekadar indeks — ia adalah  gerbang utama arus dana institusi global . Masalah utama Indonesia selama ini: Banyak emiten berkapitalisasi besar Tapi  free float rendah Sehingga  tidak “institutionally investable” Akibatnya: Bobot Indonesia di MSCI EM stagnan Dana global sulit masuk dalam skala besar Pasar didominasi pergerakan ri...

Normally This Would Be the Time to Sell… But Not This Time

Geopolitik, Likuiditas, dan Rotasi Besar Pasar Global 2026 Awal 2026 dibuka dengan kombinasi yang jarang terjadi: geopolitik memanas, sinyal sell muncul, tapi pasar belum runtuh. Michael Hartnett (BofA) menyebut kondisi ini sebagai fase anomali: “Normally this would be the time to sell… but not this time.” Kenapa? Karena pasar saat ini  bukan sedang menuju crash , melainkan  berpindah rezim . 1. “Race for the Arctic”: Ketika Geopolitik Menjadi Tradeable Theme Lonjakan harga saham  Bank of Greenland  hingga +33% hanya dalam 4 hari adalah sinyal penting. Bukan karena fundamental bank tiba-tiba membaik, melainkan karena  pasar sedang mem-price-in geopolitik sebagai aset . Apa yang terjadi? Investor global mulai  mengejar proxy geopolitik Greenland dipersepsikan sebagai: Gerbang Arctic Simpul geopolitik AS–Rusia–China Area strategis energi & mineral Pelajaran penting: Pasar tidak menunggu kepastian. Pasar  men-trade probabilitas . Dan ketika tema geopo...

Reformasi Free Float: Jembatan Indonesia dari Bull Market Retail ke Bull Market Institusi

  Target free float dinaikkan bertahap dari saat ini 7,5% → 10–15% Indonesia sedang berpindah dari retail-driven, low-float market menuju institutionally investable market. Dengan aturan baru ini estimasi tingkatkan likuditas pasar, kepemilikan institusi akan naik, Kurangi price manipulation, Saham large cap bakal diuntungkan, Daya tarik ke investor global meningkat, Standar free float lebih selaras dengan praktik global (MSCI, FTSE), Potensi kenaikan bobot indeks Retail sekarang menguasai >50% kepemilikan saham di BEI, bahkan lebih besar dari gabungan institusi. Dengan aturan baru ini kepemilikan institusi estimasi akan naik & mengurangi price manipulation Bobot Indonesia di MSCI EM <1,3%. Turun jauh dari puncak 2,2% (2022). Likuiditas tidak cukup “institutionally scalable”. Indonesia akan selalu jadi “adjustment bucket” bagi fund global. Inilah alasan fundamental kenapa reformasi free float jadi krusial. Reformasi free float adalah jembatan agar Bull market retail berub...

2026: Akankah IHSG Kembali ke Fundamental, atau Terjebak Narasi?

  2026: Akankah IHSG Kembali ke Fundamental, atau Terjebak Narasi? IHSG terus meroket didorong “conglo stocks”, bukan fundamental broad-based. Pasar menjadi sentiment & liquidity-driven, bukan earnings-driven membuat pasar rentan koreksi jika narasi melemah. Kepemilikan institusi (asing & domestik) di saham Indonesia berada di level terendah. Kepemilikan Institusi asing turun ke level setara krisis GFC 2008.  *Retail sekarang menguasai >50% kepemilikan saham, bahkan lebih besar dari gabungan institusi. Tahun 2026 akan menjadi penentuan apakah pasar Indonesia kembali ke fundamental & earnings-driven atau tetap menjadi pasar berbasis narasi & retail liquidity?

Sektor Logam Indonesia Kembali Menarik di 2026: Dari Tahun Terdalam Menuju Earnings Inflection

  Setelah melewati tahun 2025 yang penuh tekanan, sektor logam (metals) Indonesia kembali masuk radar investor di awal 2026. Data terbaru menunjukkan perubahan sentimen yang cukup signifikan, didorong oleh rebound harga komoditas, pergeseran fokus pasar ke risiko pasokan, serta membaiknya visibilitas laba ke depan. 2025: Tahun Transisi yang Berat Tahun 2025 dapat disebut sebagai tahun terendah bagi sektor logam Indonesia. Beberapa faktor utama yang menekan kinerja sektor antara lain: Siklus capex besar di industri hilirisasi yang belum sepenuhnya menghasilkan arus kas. Biaya pendanaan tinggi , seiring kondisi likuiditas global yang ketat. Oversupply nikel , yang menekan harga dan margin smelter. Risiko operasional , mulai dari cuaca, logistik, kapasitas tailing, hingga pengawasan kepatuhan regulasi. Akibatnya, pasar lebih fokus pada masalah eksekusi jangka pendek dibanding potensi struktural jangka panjang. Awal 2026: Sentimen Berbalik Cepat Memasuki 2026, nada pasar beruba...