Setiap kali yield UST 10Y kembali bergerak di atas area 4,3%, pasar mulai membaca satu pola yang menarik: Trump terlihat kembali melunakkan narasi terhadap Iran. Bukan berarti konflik benar-benar selesai. Tapi setiap kali tekanan dari pasar obligasi meningkat, narasi yang muncul dari Gedung Putih cenderung bergeser ke arah harapan negosiasi, potensi deal, atau sinyal de-eskalasi.
Ini penting karena dalam konflik Iran saat ini, pasar tidak hanya membaca rudal, kapal tanker, atau Selat Hormuz. Pasar juga membaca yield obligasi AS sebagai alarm politik. Ketika yield naik terlalu tinggi, biaya pinjaman ikut naik, ekspektasi suku bunga tetap ketat, pasar saham mulai gelisah, dan risiko inflasi kembali menghantui konsumen AS.
Meskipun ekspektasi inflasi mulai turun karena narasi de-eskalasi, pasar obligasi belum sepenuhnya percaya. US 10Y yield masih berada di atas level sebelum konflik, sementara ekspektasi suku bunga masih mencerminkan skenario higher for longer, dengan The Fed diperkirakan bertahan lebih lama sebelum mulai easing. Artinya, pasar saham boleh optimistis terhadap damai, tapi pasar obligasi masih berkata: risiko inflasi dan ketidakpastian kebijakan belum selesai.
Di sinilah posisi Trump menjadi rumit. Jika konflik Iran terus memanaskan harga minyak, efeknya bisa langsung masuk ke harga bensin, inflasi, yield obligasi, dan akhirnya sentimen pemilih. BofA mencatat approval Trump turun ke level terendah masa jabatannya saat ini, dengan tekanan datang dari kekhawatiran biaya hidup dan perang Iran. Ipsos juga mencatat hanya sekitar seperempat warga AS yang menyetujui cara Trump menangani inflasi dan kenaikan harga.
Masalahnya, inflasi adalah isu yang sangat sensitif secara politik. AP-NORC mencatat approval Trump terhadap ekonomi turun ke 30% dari 38% pada Maret, sementara hanya 23% yang menyetujui caranya menangani biaya hidup. Ini sejalan dengan narasi grafik BofA approval terhadap inflasi jatuh ke sekitar 29%, mendekati level terendah Biden pada 2022 di kisaran 28%.
Dengan kata lain, Trump mungkin masih ingin terlihat keras terhadap Iran, tetapi ia juga tidak bisa membiarkan inflasi menjadi “Biden moment” versi dirinya sendiri. Ketika publik mulai merasa harga hidup makin mahal, harga bensin naik, dan ekonomi terasa berat, tekanan politik domestik bisa lebih berbahaya daripada tekanan geopolitik luar negeri.
Tekanan pasar Indonesia pada 1Q26 bukan berasal dari satu faktor tunggal, tetapi dari kombinasi MSCI freeze, kekhawatiran rating, harga minyak yang lebih tinggi, dan kenaikan US yields. Kombinasi ini memperketat financial conditions, memicu outflow asing, melemahkan rupiah, dan menaikkan yield obligasi domestik.
Jadi, untuk pasar Indonesia, sinyal Trump melunak terhadap Iran bukan sekadar berita geopolitik. Dampaknya bisa menjalar ke banyak aset:
Jika narasi deal Iran menguat, harga minyak berpotensi turun, tekanan inflasi global mereda, yield UST bisa turun, DXY melemah, rupiah lebih stabil, dan ruang risk-on ke emerging market termasuk Indonesia bisa terbuka lagi.
Jika konflik kembali memanas, minyak bisa naik lagi, yield tetap tinggi, The Fed makin sulit dovish, dolar menguat, rupiah tertekan, dan investor asing cenderung kembali defensif.
Skenario base case adalah ceasefire bertahan dengan Hormuz stabil dan minyak sekitar USD85/barel; worse case adalah konflik berlanjut hingga 3Q26 dengan gangguan pasokan dan minyak bisa menuju USD140/barel; best case adalah perdamaian yang membuat minyak turun ke USD70–80/barel.
Level UST 10Y di atas 4,3% bisa dibaca sebagai semacam political pain threshold bagi Trump. Bukan angka resmi dari pemerintah AS, tetapi level psikologis pasar yang menunjukkan bahwa bond market mulai menekan Gedung Putih. Ketika yield naik, pesan pasar sederhana semakin lama konflik Iran berlangsung, semakin besar risiko inflasi, semakin kecil ruang The Fed untuk menurunkan suku bunga, dan semakin berat beban politik Trump menjelang pemilu.
Narasi besarnya: Trump bisa memainkan retorika keras ke Iran, tetapi ia tidak bisa terlalu lama melawan pasar obligasi.
