Alasan utama kenapa harga minyak tidak mudah kembali murah di bawah US$80/barel adalah karena pasar sekarang tidak hanya menghitung risiko perang AS–Iran. Pasar juga mulai menghitung kerusakan pada rantai pasokan energi global.
Dulu pasar mungkin berpikir sederhana: kalau perang mereda, Selat Hormuz dibuka, maka harga minyak langsung turun tajam. Tetapi data dari Goldman Sachs menunjukkan masalahnya tidak sesederhana itu.
Global visible oil inventories sudah turun sekitar 255 juta barel sejak awal konflik. Artinya, sebelum pasar benar-benar tenang, stok minyak dunia sudah terkuras duluan. Bahkan dalam skenario Selat Hormuz kembali dibuka, stok minyak global tidak langsung pulih dalam hitungan hari. Butuh waktu berminggu-minggu, bahkan bisa lebih lama, sampai aliran minyak, pengiriman, asuransi kapal, dan distribusi kembali normal.
Inilah yang membuat minyak punya alasan kuat untuk tetap berada di level tinggi lebih lama: higher for longer.
Selat Hormuz Dibuka Bukan Berarti Masalah Selesai
Kesalahan banyak investor adalah menganggap Selat Hormuz seperti saklar lampu.
Ditutup → harga minyak naik.
Dibuka → harga minyak turun.
Padahal rantai pasokan energi tidak bekerja secepat itu.
Ketika konflik terjadi, pasar minyak mengalami beberapa gangguan sekaligus. Kapal bisa menunda perjalanan. Asuransi pengiriman naik. Biaya logistik membengkak. Pembeli minyak mencari sumber alternatif. Negara importir mempercepat pembelian untuk mengamankan stok. Refinery dan trader menahan inventory karena takut pasokan berikutnya terganggu.
Akibatnya, walaupun jalur logistik kembali dibuka, pasar tidak langsung kembali normal. Ada proses pemulihan bertahap. Dan selama proses itu berlangsung, harga minyak tetap mendapat bantalan kuat.
Itulah sebabnya minyak sulit turun agresif ke bawah US$80. Bukan karena perang harus terus memburuk, tetapi karena stok global sudah turun lebih dulu.
Pasar Mulai Menghitung Risiko Supply Shock yang Lebih Struktural
Dalam kondisi normal, harga minyak banyak dipengaruhi oleh demand: apakah ekonomi global kuat, apakah China pulih, apakah konsumsi bahan bakar naik.
Tetapi dalam kondisi geopolitik seperti sekarang, pasar lebih sensitif pada sisi supply.
Masalahnya bukan sekadar apakah permintaan minyak naik atau turun. Masalahnya adalah apakah minyak bisa dikirim dengan aman, tepat waktu, dan dalam volume cukup.
Ini yang membuat risiko minyak sekarang berbeda. Harga minyak tidak hanya naik karena spekulasi perang. Harga minyak naik karena pasar melihat ada risiko nyata pada pasokan fisik.
Kalau inventory turun, buffer pasar makin tipis. Ketika buffer tipis, sedikit gangguan saja bisa membuat harga melonjak lagi. Jadi walaupun ada kabar gencatan senjata, pasar belum tentu langsung percaya sepenuhnya.
Apalagi dari berita Reuters di gambar, situasinya masih rapuh. Iran menuduh AS melanggar gencatan senjata, sementara AS mengatakan melakukan serangan balasan. Presiden Trump menyebut ceasefire masih berlaku, tetapi pasar melihat bahwa kondisi di lapangan belum benar-benar stabil.
Artinya, risk premium di harga minyak belum hilang.
Mirip Super Bullish Coal 2021: Harga Sulit Turun Lama
Situasi ini mirip dengan super bullish harga coal pada 2021.
Waktu itu banyak orang berpikir harga coal hanya naik sementara. Tetapi kenyataannya, harga coal sulit turun dalam waktu yang lama karena masalahnya bukan hanya sentimen. Ada gangguan supply, kekurangan stok, permintaan kuat, dan panic buying dari negara-negara importir energi.
Begitu inventory energi turun terlalu dalam, pasar butuh waktu lama untuk menormalkan diri.
Logikanya sama dengan minyak hari ini.
Harga tidak harus terus naik setiap hari. Tetapi untuk turun kembali ke level murah, pasar butuh bukti bahwa:
- konflik benar-benar reda,
- Selat Hormuz aman secara berkelanjutan,
- pengiriman minyak kembali normal,
- inventory global mulai pulih,
- risk premium geopolitik menghilang.
Selama lima hal itu belum terjadi, minyak masih punya alasan untuk bertahan tinggi.
Kenapa Level US$80 Menjadi Area Penting?
US$80/barel sekarang menjadi semacam garis psikologis pasar.
Di bawah US$80, pasar membaca kondisi energi mulai normal. Inflasi energi lebih terkendali. Tekanan ke negara importir minyak lebih ringan. Risiko subsidi dan defisit fiskal lebih kecil.
Tetapi kalau minyak bertahan di atas US$80, narasinya berubah.
Pasar mulai membaca bahwa energi masih mahal. Inflasi bisa lebih lengket. Yield obligasi bisa sulit turun. Bank sentral lebih hati-hati menurunkan suku bunga. Negara importir minyak seperti Indonesia bisa mendapat tekanan dari sisi neraca dagang, rupiah, subsidi energi, dan daya beli masyarakat.
Jadi minyak di atas US$80 bukan hanya cerita sektor energi. Ini bisa menjadi cerita makro global.
Implikasi ke Pasar Saham Indonesia
Bagi investor saham Indonesia, minyak yang higher for longer punya dua sisi.
Sisi negatifnya, Indonesia sebagai net oil importer bisa terkena tekanan. Minyak mahal bisa menekan rupiah, memperbesar beban subsidi, mempersempit ruang fiskal, dan membuat Bank Indonesia lebih hati-hati untuk melonggarkan kebijakan.
Sektor yang sensitif terhadap biaya energi dan daya beli bisa terkena tekanan.
Tetapi di sisi lain, sektor upstream oil & gas bisa diuntungkan. Emiten yang punya eksposur langsung terhadap harga minyak akan dilihat pasar sebagai proxy dari kenaikan harga energi global.
Itulah kenapa dalam rezim minyak mahal, pasar biasanya mulai melirik sektor energi, oil & gas, dan komoditas. Bukan karena semua sahamnya otomatis bagus, tetapi karena secara narasi makro mereka berada di sisi yang lebih diuntungkan.
