Di tengah skenario harga minyak yang berpotensi bertahan tinggi lebih lama atau “higher for longer”, MEDC kembali menjadi salah satu saham yang menarik untuk diperhatikan. Thesis utamanya sederhana: MEDC adalah proxy upstream oil & gas Indonesia yang punya leverage kuat terhadap kenaikan harga minyak, tetapi tetap memiliki bantalan tambahan dari AMMN dan neraca yang mulai lebih sehat.
Harga Minyak Tinggi Jadi Katalis Utama
Rikopedia memperkirakan harga Brent bisa bertahan di sekitar USD85/barel pada 2026. Ini bukan sekadar karena sentimen geopolitik, tetapi karena gangguan di Selat Hormuz membuat keseimbangan supply-demand minyak global menjadi jauh lebih ketat. Sebelum konflik, pasar minyak sebenarnya masih berada dalam kondisi oversupply. Namun, setelah gangguan di kawasan Gulf, surplus global diperkirakan menyempit tajam. Inilah yang membuat harga minyak berpotensi punya “floor” baru yang lebih tinggi. Bagi MEDC, kondisi ini sangat positif karena sekitar 50% lifting MEDC terekspos ke pergerakan harga crude oil. Artinya, ketika harga minyak naik, pendapatan dan margin MEDC bisa ikut terdongkrak secara signifikan.
Laba MEDC Diproyeksikan Melonjak
Rikopedia memperkirakan lifting MEDC pada 2026 naik ke sekitar 170 mboepd, didukung oleh kontribusi lebih besar dari Corridor Block, ramp-up Oman, field baru di Block B Natuna, dan pertumbuhan Senoro-Toili Phase 2. Kombinasi harga minyak tinggi dan volume produksi yang naik membuat proyeksi keuangan MEDC terlihat sangat kuat. EBITDA 2026 diperkirakan naik sekitar 20% YoY menjadi USD1,5 miliar, sementara core profit diproyeksikan melonjak 152% YoY menjadi USD522 juta. Dengan kata lain, MEDC tidak hanya mengandalkan kenaikan harga minyak, tetapi juga punya dukungan dari sisi produksi.
AMMN Menjadi Mesin Laba Kedua
Salah satu poin menarik dari MEDC adalah kepemilikannya sekitar 21% di AMMN. Kami melihat AMMN masuk fase pertumbuhan agresif pada 2026, seiring pemulihan produksi Batu Hijau Phase 8 dan kontribusi smelter yang mulai lebih optimal. AMMN diproyeksikan mencatat revenue sekitar USD4,2 miliar, naik 128% YoY, dengan laba bersih sekitar USD1 miliar, naik 320% YoY. Kontribusi AMMN terhadap core profit MEDC diperkirakan bisa mencapai 42–46%. Ini penting karena AMMN berfungsi sebagai earnings hedge. Jika suatu saat harga minyak melemah, MEDC masih punya eksposur ke copper dan gold melalui AMMN.
Neraca Membaik, Ruang M&A Terbuka
MEDC selama ini dikenal sebagai perusahaan yang agresif melakukan akuisisi untuk menjaga pertumbuhan lifting. Setelah periode capex dan M&A yang besar, Rikopedia memperkirakan MEDC mulai masuk fase deleveraging pada 2026. Capex-to-EBITDA diproyeksikan turun ke sekitar 29% dari 72% pada 2025. Net debt-to-EBITDA juga diperkirakan turun ke sekitar 2,0x dari 2,4x. Free cash flow bahkan diproyeksikan melonjak ke sekitar USD670 juta, naik sekitar 900% YoY. Dengan free cash flow yang lebih kuat, MEDC punya ruang untuk memperbaiki neraca sekaligus menyiapkan amunisi untuk siklus M&A berikutnya pada 2027–2028.
Risiko yang Tetap Harus Diperhatikan
Meski thesis MEDC terlihat kuat, risikonya tetap besar. Risiko pertama adalah jika harga minyak turun lebih cepat dari ekspektasi. Karena MEDC sangat sensitif terhadap Brent, penurunan harga oil bisa langsung menekan earnings outlook. Risiko kedua adalah perpanjangan PSC. Beberapa aset seperti Natuna Block B, Madura, Sampang, Lematang, dan Bangkanai masih membutuhkan kepastian perpanjangan. Aset-aset ini berkontribusi sekitar 17–19% dari total lifting. Jika tidak diperpanjang, lifting dan EBITDA MEDC bisa tertekan dalam jangka menengah. Risiko ketiga adalah geopolitik Oman. MEDC memiliki aset di Oman yang berkontribusi sekitar 15% lifting dan 10% EBITDA. Walaupun saat ini relatif aman, eskalasi konflik Timur Tengah tetap bisa menjadi risiko operasional.
