Pertama, foreign flow masih lemah. Sejak Covid, arus asing cenderung sideways.
Kedua, bobot Indonesia di indeks global makin kecil. Bobot Indonesia di MSCI EM turun ke sekitar 0,8%, Pasar saham Indonesia makin kurang relevan bagi fund global.
Ketiga, Indonesia dianggap sebagai pasar “old economy”. Saat global sedang ramai AI, tech, dan new economy, Indonesia masih banyak diisi bank, komoditas, consumer, dan konglomerasi lama.
Keempat, ada risiko makro dari harga minyak tinggi. Jika harga minyak bertahan dekat USD100/barel, maka GDP Indonesia bisa turun di bawah 5%, dan pertumbuhan laba emiten bisa turun dari 10,7% menjadi sekitar 5,4%.
Foreign outflow Indonesia sangat besar mencapai US$2,4 miliar YTD dari saham, US$1,2 miliar YTD dari obligasi.
Investor asing tidak sedang mencari cerita upside dulu. Mereka ingin melihat downside risks removal artinya risiko-risiko negatif harus berkurang dulu sebelum dana besar kembali masuk ke IHSG.
