Di pasar saham Indonesia, ada satu realitas yang sering kali lebih kuat daripada rasio keuangan, proyeksi laba, bahkan valuasi mahal: siapa pemilik di belakangnya.
Fenomena inilah yang dikenal investor sebagai Konglo Stocks — saham-saham yang terafiliasi dengan konglomerat besar dan keluarga elite bisnis Indonesia. Dalam banyak kasus, investor tidak sekadar membeli perusahaan, tapi membeli nama, jaringan, dan kekuatan modal.
Follow the Money, Not Just the Numbers
Berbeda dengan pasar maju yang sangat data-driven, pasar Indonesia punya karakter unik:
kepercayaan sering kali mendahului kinerja.
Strategi yang populer digunakan pelaku pasar adalah “Follow the Money” — mengikuti ke mana uang besar dan patron kuat bergerak. Ketika sebuah emiten berada di bawah payung konglomerasi besar, pasar cenderung memberi benefit of the doubt sejak awal.
Inilah yang menciptakan halo effect.
Kesuksesan bisnis sebelumnya dianggap sebagai “jaminan tak tertulis” untuk proyek dan perusahaan berikutnya.
Akibatnya:
IPO disambut euforia
Valuasi bisa melesat jauh sebelum laba terealisasi
Saham bergerak bukan karena laporan keuangan, tapi karena narasi dan reputasi
Dinasti Bisnis dan Dominasi Bursa
Laporan terbaru memetakan bagaimana segelintir keluarga dan grup usaha mendominasi berbagai sektor di Bursa Efek Indonesia — dari energi, tambang, properti, infrastruktur, consumer, hingga digital.
Mereka tidak hanya hadir di satu lini bisnis, tapi membangun ekosistem terintegrasi:
Hulu sampai hilir
Aset riil + aset finansial
Proyek jangka panjang + kendaraan publik (saham)
Bagi investor, ini menciptakan persepsi bahwa:
“Selama patronnya kuat, risikonya bisa ditoleransi.”
Kenapa Konglo Stocks Sering Outperform IHSG?
Ada beberapa alasan kenapa strategi ini sering (meski tidak selalu) berhasil:
Akses Modal Tak Terbatas
Right issue, private placement, refinancing — semua relatif lebih mudah.Political & Strategic Capital
Kedekatan dengan kebijakan, proyek nasional, dan perizinan strategis.Narasi Lebih Kuat dari Angka
Market Indonesia sangat responsif terhadap cerita besar: hilirisasi, green energy, digitalisasi, food security.Likuiditas dan Atensi Tinggi
Saham-saham ini selalu “hidup”, baik di radar bandar, institusi, maupun ritel.
Namun, di sinilah jebakannya.
Risiko di Balik Kilau Konglomerasi
Konglo Stocks bukan tanpa risiko. Justru karena euforia tinggi, risikonya sering tersembunyi.
Beberapa hal yang perlu diwaspadai:
Valuasi terlalu jauh mendahului fundamental
Struktur grup yang kompleks dan tidak transparan
Dilusi berulang lewat aksi korporasi
Ketergantungan penuh pada satu figur sentral
Ketika kepercayaan pasar retak, koreksinya bisa sangat brutal.
Intinya sederhana:
Konglo Stocks adalah strategi, bukan keyakinan mutlak.
Digunakan dengan timing yang tepat, ia bisa menjadi mesin outperformance.
Digunakan tanpa disiplin, ia berubah jadi jebakan euforia.
Investor cerdas tidak anti konglomerasi, tapi juga tidak buta oleh nama besar.
Karena pada akhirnya, di pasar saham:
Uang besar memang penting, tapi kesadaran risiko jauh lebih penting.
