Selama lebih dari satu dekade, Emerging Markets (EM) hidup dalam bayang-bayang dominasi Amerika Serikat. US exceptionalism, dolar kuat, suku bunga rendah, dan konsentrasi laba pada segelintir saham teknologi raksasa membuat EM terpinggirkan secara struktural.
Namun sejarah pasar keuangan mengajarkan satu hal penting: tidak ada dominasi yang abadi. Siklus selalu berputar. Dan hari ini, tanda-tanda pergeseran besar mulai terlihat.
Dari Underperformance Menuju Relative Bull Market
Jika kita melihat rasio kinerja saham AS dibandingkan Emerging Markets, level saat ini sudah berada di zona ekstrem historis. Dalam periode sebelumnya, posisi seperti ini jarang bertahan lama. Biasanya pasar akan melakukan penyesuaian melalui mean reversion: bukan karena EM tiba-tiba menjadi sempurna, melainkan karena ekspektasi terhadap AS sudah terlalu tinggi.
Di titik ini, EM hanya perlu “kurang buruk” untuk mulai mengungguli secara relatif.
Dolar Melemah, EM Bernapas Lega
Emerging Markets adalah refleksi langsung dari siklus dolar global. Ketika dolar menguat, EM tercekik oleh biaya pendanaan, tekanan neraca eksternal, dan capital outflow. Sebaliknya, saat dolar mulai melemah, EM mendapatkan ruang bernapas.
Saat ini, defisit fiskal AS yang melebar, kebijakan moneter yang semakin akomodatif, serta kecenderungan debasement mata uang menjadikan dolar kehilangan daya tarik strukturalnya. Dalam kondisi seperti ini, investor global mulai mencari diversifikasi lintas negara, dan EM kembali masuk radar.
Dari “Anything But Bonds” ke “Anything But US”
Paruh pertama dekade 2020-an ditandai oleh bond bear market terburuk dalam sejarah modern. Harga obligasi jangka panjang anjlok tajam, memaksa modal global meninggalkan fixed income dan berpindah ke aset alternatif.
Awalnya, pelarian ini menguntungkan emas, saham teknologi AS, serta perbankan Eropa dan Jepang. Namun memasuki paruh kedua dekade, narasinya mulai berubah. Return marginal dari aset AS mengecil, valuasi makin mahal, dan konsentrasi risiko makin tinggi.
Kini, rotasi bergerak dari Anything But Bonds menuju Anything But US. Bukan berarti Amerika akan runtuh, tetapi peluang pertumbuhan relatif justru mulai muncul di luar AS — terutama di Emerging Markets.
EM dan Rezim Populisme Global
Dunia sedang bergerak menuju rezim baru: fiskal ekspansif, proteksionisme, industrial policy, dan belanja domestik. Ironisnya, kondisi ini justru lebih menguntungkan Emerging Markets.
Banyak negara EM:
kaya sumber daya alam,
memiliki tenaga kerja murah,
dan menjadi tujuan relokasi rantai pasok global.
Dalam rezim fragmentasi global, EM tidak lagi sekadar “pasar berisiko tinggi”, melainkan bagian penting dari restrukturisasi ekonomi dunia.
Positioning Masih Ringan, Euforia Belum Datang
Ciri khas bull market sejati adalah lahir dari ketidakpercayaan. Saat ini, alokasi dana global ke EM masih rendah. Arus dana belum masif. Sentimen masih dibayangi trauma siklus sebelumnya.
Justru inilah yang membuat fase awal ini menarik. Bull market besar jarang dimulai dari euforia — ia dimulai dari skeptisisme.
Risiko Utama: Yield Shock, Bukan Inflasi
Risiko terbesar bagi Emerging Markets saat ini bukan inflasi, melainkan lonjakan yield obligasi AS jangka panjang yang tidak terkendali. Selama yield masih berada dalam batas yang bisa “dikendalikan” oleh ekspektasi kebijakan moneter, EM memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan relatif.
Dengan kata lain, selama pasar obligasi tidak panik, EM masih aman untuk berlari.
Kesimpulan: EM Kembali Relevan
Emerging Markets tidak sedang memasuki fase spekulatif. EM sedang memasuki fase normalisasi peran dalam portofolio global.
Setelah satu dekade menjadi underdog, kombinasi valuasi murah, pelemahan dolar, rotasi global, dan perubahan rezim kebijakan menjadikan EM kandidat kuat pemenang paruh kedua 2020-an.
Perjalanannya tidak akan mulus. Volatilitas akan tetap tinggi. Namun dalam siklus besar, EM kembali menjadi cerita utama.


