Saat USD melemah, Rupiah tidak ikut menguat seperti sebagian mata uang Asia lainnya karena uang global masuk secara selektif. Dalam fase awal dollar debasement, pasar hanya memilih negara dengan neraca eksternal kuat dan kebijakan fiskal yang kredibel. Indonesia belum sepenuhnya masuk ke klub pemenang tersebut. Pasar FX sangat sensitif terhadap fiskal. Defisit APBN 2025 Indonesia yang mencapai 2,9% PDB—mepet batas 3%—membuat Rupiah dipersepsikan lebih rentan.
Di era USD melemah, EM dengan defisit melebar justru dihukum lebih dulu, sementara negara surplus seperti Malaysia dan Thailand menikmati arus modal lebih awal. Singkatnya, Rupiah bukan gagal, tapi belum diberi “trust premium”. Selama kredibilitas fiskal 2026 dan perbaikan neraca eksternal belum benar-benar terkonfirmasi, Rupiah akan tetap menjadi late-cycle player dalam siklus pelemahan USD global.
Analogi simplenya: Negara surplus seperti keluarga dengan pemasukan lebih besar dari pengeluaran—uang datang sendiri. Negara defisit seperti keluarga yang hidup dari kartu kredit—harus terus meyakinkan orang lain untuk membiayai. Indonesia perkasa saat ada commodity boom..
