Awal 2026 ditandai reli kuat di pasar komoditas. Namun menurut laporan riset komoditas terbaru dari Goldman Sachs (8 Februari 2026), kenaikan ini bukan semata karena fundamental supply–demand. Faktor yang lebih dominan adalah rotasi investor ke hard assets.
Di tengah ketidakpastian makro, geopolitik, dan kekhawatiran terhadap stabilitas fiskal global, investor mulai meningkatkan alokasi ke aset riil seperti emas, tembaga, dan minyak. Dan karena struktur pasar komoditas relatif kecil, efeknya terhadap harga menjadi sangat besar.
1️⃣ Pasar Komoditas Sangat Kecil → Efek Harga Bisa Eksplosif
Data Goldman menunjukkan bahwa:
Open interest pasar copper global sekitar 135 kali lebih kecil dibanding outstanding US Treasuries.
Sektor natural resources hanya sekitar 5% dari S&P 500.
Artinya, ketika dana institusi dalam jumlah besar melakukan diversifikasi kecil saja ke komoditas, dampaknya terhadap harga bisa signifikan. Ini bukan hanya soal fundamental, tapi soal market depth dan arus likuiditas.
2️⃣ Metals Lebih Diuntungkan Dibanding Energy
Goldman menyebut tiga alasan utama mengapa logam (khususnya emas dan tembaga) lebih sensitif terhadap rotasi ini dibanding minyak:
a) Supply Bersifat Long-Cycle dan Tidak Elastis
Copper membutuhkan waktu rata-rata ~17 tahun dari penemuan tambang hingga produksi.
Emas memiliki supply yang sangat tidak elastis—stok emas di atas tanah jauh lebih besar dari produksi tahunan.
Berbeda dengan minyak, di mana produksi shale bisa naik relatif cepat saat harga naik.
b) Storage Lebih Mudah
Logam lebih mudah disimpan dibanding energi. Minyak dan gas memiliki keterbatasan kapasitas penyimpanan (contoh 2020 saat “tank tops” terjadi).
Metals tidak menghadapi tekanan roll cost sebesar energy futures.
c) Positioning Sangat Berpengaruh pada Harga
Goldman mengestimasi:
Kenaikan 1 standar deviasi positioning (net managed money) dapat mendorong harga copper naik sekitar 6–7% dalam jangka pendek.
Untuk oil, efek jangka pendek sekitar 10%, namun cepat terkoreksi karena supply responsif.
Ini menunjukkan metals lebih “lengket” ketika terjadi inflow.
3️⃣ Emas: Ekspresi Paling Murni Rotasi Hard Assets
Goldman memproyeksikan harga emas $5,400 pada Desember 2026, dengan upside risk dari diversifikasi sektor swasta.
Data kunci:
Alokasi emas dalam portofolio finansial sektor swasta AS hanya sekitar 0.2%.
Setiap kenaikan 1 basis point alokasi emas diperkirakan dapat menaikkan harga sekitar 1.5%.
Artinya, ruang diversifikasi masih sangat besar. Jika investor meningkatkan porsi emas sebagai lindung nilai terhadap risiko sistemik, harga bisa terdorong jauh lebih tinggi.
4️⃣ Copper: Bisa Overextended, Tapi Masih Ada Upside
Walaupun Goldman melihat copper mungkin sudah berada di atas nilai fundamental jangka pendek, mereka juga menghitung skenario risiko:
Jika terjadi:
Kenaikan positioning signifikan
Strategic stockpiling tambahan ~1 juta ton
Maka harga copper berpotensi naik hingga 25% di atas base case 2026Q4.
Artinya, meskipun fundamental mulai menormalisasi, arus dana dan kebijakan strategis negara bisa mempertahankan harga tetap tinggi.
5️⃣ Kesimpulan: High for Longer Bukan Karena Supply Shortage
Poin utama Goldman sangat jelas:
Rotasi investor ke hard assets dapat membuat harga metals bertahan tinggi lebih lama, bahkan di atas yang dibenarkan oleh fundamental fisik.
Ini adalah fenomena flow-driven market, bukan murni physical imbalance.
Dalam fase seperti ini:
Likuiditas lebih dominan daripada data inventory.
Positioning lebih kuat daripada short-term demand.
Diversifikasi portofolio bisa menjadi katalis harga.
Insight Strategis
Jika rotasi hard assets berlanjut:
Precious metals berpotensi outperform.
Copper sensitif terhadap positioning dan stockpiling.
Energy lebih dipengaruhi geopolitik dibanding sekadar inflow.
Intinya, ketika arus uang besar berpindah ke pasar yang kecil dan supply tidak elastis, harga bisa bertahan tinggi lebih lama dari yang diperkirakan banyak pelaku pasar.
Dan dalam siklus likuiditas global, itulah yang sering disebut: Flow overrides fundamentals.
