Langsung ke konten utama

IHSG Tertinggal dalam Rotasi Global: Ketika Dunia Mengejar AI, ASEAN Kehilangan Narasi

Dalam beberapa bulan terakhir, arus modal global bergerak sangat selektif. Dana asing belum kembali ke IHSG, bahkan mencatatkan net outflow year-to-date. Ini bukan semata soal valuasi atau fundamental jangka pendek — ini soal narasi global.

Pasar hari ini digerakkan oleh big themes. Dan ASEAN, termasuk Indonesia, belum menjadi bagian dari cerita besar tersebut.

IHSG Tertinggal dalam Rotasi Global: Ketika Dunia Mengejar AI, ASEAN Kehilangan Narasi



1️⃣ Dunia Bergerak oleh Tema Besar: AI & Technology Leadership

Arus dana global saat ini terkonsentrasi pada negara yang dianggap menjadi pemimpin dalam revolusi AI dan teknologi.

  • NVIDIA menjadi simbol era AI.

  • Taiwan Semiconductor Manufacturing Company dan Korea Selatan menikmati capital inflow karena posisi strategis mereka dalam supply chain chip global.

  • Korea dan Taiwan dipersepsikan sebagai AI infrastructure backbone.

Global fund manager berburu exposure pada:

  • Semiconductor

  • Data center

  • Cloud infrastructure

  • Advanced manufacturing

ASEAN? Belum masuk dalam rantai nilai AI tingkat atas.


2️⃣ China: Recovery Play yang Mulai Dilirik

Setelah tekanan panjang, China mulai dilihat sebagai earnings recovery story.

Investor global melihat:

  • Valuasi murah

  • Stimulus kebijakan

  • Potensi rebound laba korporasi

Indeks seperti Hang Seng Index mulai menarik kembali tactical allocation.


3️⃣ India: Structural Growth Story yang Kuat


India memiliki narasi jangka panjang:

  • Demografi muda

  • Reformasi struktural

  • Manufaktur + digital economy

  • Diversifikasi supply chain global

Investor melihat India sebagai multi-year compounding story, bukan sekadar tactical rebound.


4️⃣ Diversifikasi dari US, Tapi Bukan ke ASEAN

Dominasi US equity — terutama Magnificent 7 — memang ekstrem. Namun ketika global investor ingin diversifikasi dari US, dana tersebut tidak otomatis mengalir ke ASEAN.

Kenapa?

Karena dalam dunia investasi global, uang mengikuti:

  • Growth story

  • Technological edge

  • Structural reform

  • Earnings visibility

  • Liquidity depth

ASEAN, termasuk Indonesia, saat ini:

  • Tidak punya positioning sebagai AI leader

  • Tidak punya reform momentum sebesar India

  • Tidak punya recovery narrative sekuat China

  • Tidak punya thematic hook yang “menjual” di mata global fund manager


5️⃣ Fundamental Indonesia Sebenarnya Stabil

Di sisi domestik:

  • PMI kembali ekspansi

  • Konsumsi membaik

  • Likuiditas perbankan longgar

  • M2 meningkat

  • Excess liquidity > IDR 1.000 triliun

Namun pasar global tidak hanya membeli stabilitas.
Mereka membeli cerita pertumbuhan masa depan.

Stabil ≠ exciting.

Dan dalam fase risk-on global, excitement-lah yang menarik dana besar.


6️⃣ Masalahnya Bukan Valuasi, Tapi Positioning

IHSG bukan mahal secara ekstrem. Bahkan beberapa saham bank besar dan komoditas terlihat menarik secara valuasi.

Masalahnya:

Global allocator saat ini bermain pada “future growth concentration themes”, bukan pada defensive carry trade.

Indonesia masih terlalu bergantung pada:

  • Komoditas

  • Perbankan domestik

  • Konsumsi

Sementara global narrative bergerak ke:

  • AI capex cycle

  • Semiconductor dominance

  • Tech infrastructure

  • Digital transformation


7️⃣ Apa yang Bisa Mengubah Arah?

Agar inflow kembali ke IHSG, dibutuhkan salah satu dari berikut:

  1. Catalyst domestik kuat

    • Reform besar

    • Deregulasi signifikan

    • FDI besar dalam sektor teknologi

  2. Commodity supercycle baru

    • Jika nickel, copper, coal, oil masuk fase bull market kuat, Indonesia bisa kembali relevan.

  3. Global rotation out of crowded tech

    • Jika US mega-cap mulai overextended dan dana mencari alternatif murah, EM termasuk Indonesia bisa ikut menikmati aliran dana.

  4. Liquidity wave global

    • Saat global liquidity naik signifikan, uang biasanya mengalir ke aset ber-beta tinggi termasuk EM.


8️⃣ Kesimpulan: IHSG Bukan Lemah, Tapi Belum Punya Cerita

IHSG tidak dalam kondisi fundamental yang buruk.
Namun dalam kompetisi global capital, narasi adalah segalanya.

Saat ini:

  • Korea & Taiwan = AI leadership

  • China = earnings recovery

  • India = structural growth

  • US = technology dominance

ASEAN? Masih mencari identitas globalnya.

Dan sampai narasi itu muncul, inflow dana asing kemungkinan tetap selektif dan tidak agresif.


Jika kita membaca pasar dengan pendekatan intermarket dan liquidity cycle:

Uang tidak bergerak ke tempat yang “cukup baik”.
Uang bergerak ke tempat yang punya cerita paling kuat.

Pertanyaannya sekarang:
Apakah Indonesia mampu menciptakan cerita tersebut dalam 1–2 tahun ke depan?

Karena di pasar global, bukan yang stabil yang menang.
Yang menang adalah yang relevan dengan masa depan.

Postingan populer dari blog ini

Membership Rikopedia

Selamat datang di halaman registrasi membership Rikopedia. Dengan join membership anda akan mendapatkan bimbingan trading saham dan update informasi yang berkualitas via group WhatsApp.  Kinerja Portofolio Rikopedia dan testimoni member klik  di sini Fasilitas membership detailnya sebagai berikut : Update info saham yang masuk dan keluar portofolio Rikopedia .  Update info saham secara teknikal, fundamental & analisa makro ekonomi. Update news, Sentimen, Trading plan, Money & risk management. Sharing strategy trading saham berdasarkan pengalaman Rikopedia sejak tahun 2008. Member bisa tanya langsung dengan Rikopedia lewat whatsapp. Masuk group WhatsApp premium. Biaya membership Rp. 500,000/ Bulan. Bagi anda yang berminat join membership dapat melakukan transfer ke rekening di bawah ini: 1. Bank Mandiri 1440013474108 Rikosiwi sandi Saputro. 2. Bank BCA 7915239226 Rikosiwi sandi Saputro. Membership akan terhitung dari mulai tanggal konfirmasi p...

Portofolio Rikopedia dan Testimoni Member

Screenshot salah satu portofolio Rikopedia dengan modal awal 500 juta Kinerja Tahun 2018 Kinerja Tahun 2019 Januari February Maret April Mei Juni July  Agustus  September Oktober November  Desember Kinerja Tahun 2020 Tanggal 11 Mei akumulasi BBRI 2250 lot harga 2630 Trading SCMA 27-28 Mei 2020  Tanggal 4 Juni 2020 profit 36 juta dari BBNI Profit 68 Juta dari saham BBNI Profit 37 juta dari saham ELSA Profit 40 juta tanggal 19 Juni 2020  Profit 61 Juta tanggal 3 July 2020                                      Tanggal 19 Oktober 2020 Rikopedia beli BSDE 18361 lot November 2020 Desember 2020 Kinerja Tahun 2021 Januari 2021 Trading ELSA 27 Januari 2021 Bulan February profit 268 juta Bul...