Langsung ke konten utama

Ultimatum Trump, Pengepungan Militer, dan Risiko Perang yang Bisa Mengguncang Pasar Global

Ketegangan antara Donald Trump dan Iran kembali memasuki fase paling berbahaya. Retorika keras, pengerahan armada militer, hingga ancaman pembalasan rudal jarak jauh membuat dunia bertanya: apakah ini sekadar tekanan negosiasi, atau benar-benar menuju perang terbuka?

Bagi pelaku pasar, ini bukan sekadar isu geopolitik. Ini adalah variabel risiko sistemik.

Ultimatum Trump, Pengepungan Militer, dan Risiko Perang yang Bisa Mengguncang Pasar Global

Ultimatum 10–15 Hari dan Strategi “Maximum Pressure”

Dalam pidatonya, Trump memberikan ultimatum singkat kepada Iran. Pernyataan seperti “bad things will happen” bukan sekadar retorika politik dalam bahasa militer, itu sering diartikan sebagai sinyal kesiapan operasional.

Strategi yang digunakan konsisten dengan pendekatan maximum pressure:

  • Sanksi ekonomi diperketat

  • Tekanan diplomatik ditingkatkan

  • Demonstrasi kekuatan militer diperlihatkan secara terbuka

Tujuannya memaksa Iran bernegosiasi dari posisi lemah. Namun sejarah menunjukkan, tekanan ekstrem sering memicu respons asimetris.

Pengepungan Militer: Kartu Tekanan atau Persiapan Serangan?

Amerika Serikat mengerahkan armada besar ke Timur Tengah, termasuk kapal induk USS Gerald R. Ford yang mampu membawa lebih dari 75 pesawat tempur, termasuk F-35 Lightning II serta dukungan rudal jelajah Tomahawk.

Secara militer, AS memiliki keunggulan teknologi signifikan:

  • Superioritas udara

  • Kemampuan precision strike

  • Sistem peperangan elektronik

Beberapa analis bahkan menyebut sistem pertahanan udara Iran bisa dilumpuhkan dalam hitungan jam.

Respons Iran: Siap Perang Total

Iran tidak menunjukkan tanda mundur. Garda Revolusi Iran menyatakan kesiapan menargetkan pangkalan AS di kawasan, termasuk Diego Garcia.

Iran memiliki sejumlah rudal balistik:

  • Fateh

  • Shahab-2

  • Shahab-3

  • Qiam-1

Jangkauan 300–2.000 km cukup untuk menjangkau banyak basis militer AS di Timur Tengah.

Strategi Iran kemungkinan berbasis asymmetric warfare:

  • Serangan ke pangkalan regional

  • Gangguan jalur minyak

  • Proxy escalation

Dalam konflik ini, bahkan gangguan kecil di Selat Hormuz bisa memicu lonjakan harga minyak global.

Krisis Internal Iran: Tekanan Ekonomi dan Risiko Destabilisasi

Di dalam negeri, Iran menghadapi tekanan berat:

  • Rial terdepresiasi ekstrem

  • Sanksi membatasi ekspor minyak

  • Pengangguran meningkat

Situasi sosial yang tidak stabil menciptakan dua kemungkinan:

  1. Rezim melemah dan kompromi

  2. Rezim mengalihkan tekanan internal ke konflik eksternal

Dalam banyak kasus sejarah, opsi kedua lebih sering terjadi.

Dampak Global: Ini Soal Energi dan Likuiditas

Jika perang benar-benar pecah, efeknya tidak hanya regional.

Skenario pasar yang paling mungkin:

  • Oil spike tajam

  • Gold rally kuat

  • Ekuitas global terkoreksi

  • Inflasi naik kembali

  • Ekspektasi rate cut mundur atau bahkan pivot hawkish

Kita pernah melihat pola ini di:

  • Perang Teluk

  • Invasi Irak

  • Konflik Rusia-Ukraina

Untuk konteks saat ini:

  • Jika harga minyak melonjak >20–30%, tekanan inflasi global bisa muncul kembali.

  • The Fed bisa menunda siklus pelonggaran.

  • Emerging market berisiko outflow lanjutan.

Untuk IHSG dan ASEAN yang sebelumnya memang belum memiliki narasi kuat di tengah dominasi AI US & Korea/Taiwan—eskalasi perang bisa menjadi tekanan tambahan terhadap aliran dana asing.

Pasar Takut Ketidakpastian

Konflik AS-Iran bukan sekadar pertarungan dua negara. Ini adalah pertarungan:

  • Stabilitas energi global

  • Inflasi vs suku bunga

  • Risk asset vs safe haven

Jika perang pecah:

  • Oil & gold menjadi pemenang utama

  • Saham global berisiko koreksi

  • Volatilitas melonjak

Sebagai investor, pertanyaan terpenting bukan “siapa menang perang”, tetapi bagaimana positioning portofolio Anda jika volatilitas melonjak tiba-tiba?

Karena dalam geopolitik, satu headline bisa mengubah arah pasar dalam hitungan jam.

Postingan populer dari blog ini

Membership Rikopedia

Selamat datang di halaman registrasi membership Rikopedia. Dengan join membership anda akan mendapatkan bimbingan trading saham dan update informasi yang berkualitas via group WhatsApp.  Kinerja Portofolio Rikopedia dan testimoni member klik  di sini Fasilitas membership detailnya sebagai berikut : Update info saham yang masuk dan keluar portofolio Rikopedia .  Update info saham secara teknikal, fundamental & analisa makro ekonomi. Update news, Sentimen, Trading plan, Money & risk management. Sharing strategy trading saham berdasarkan pengalaman Rikopedia sejak tahun 2008. Member bisa tanya langsung dengan Rikopedia lewat whatsapp. Masuk group WhatsApp premium. Biaya membership Rp. 500,000/ Bulan. Bagi anda yang berminat join membership dapat melakukan transfer ke rekening di bawah ini: 1. Bank Mandiri 1440013474108 Rikosiwi sandi Saputro. 2. Bank BCA 7915239226 Rikosiwi sandi Saputro. Membership akan terhitung dari mulai tanggal konfirmasi p...

Portofolio Rikopedia dan Testimoni Member

Screenshot salah satu portofolio Rikopedia dengan modal awal 500 juta Kinerja Tahun 2018 Kinerja Tahun 2019 Januari February Maret April Mei Juni July  Agustus  September Oktober November  Desember Kinerja Tahun 2020 Tanggal 11 Mei akumulasi BBRI 2250 lot harga 2630 Trading SCMA 27-28 Mei 2020  Tanggal 4 Juni 2020 profit 36 juta dari BBNI Profit 68 Juta dari saham BBNI Profit 37 juta dari saham ELSA Profit 40 juta tanggal 19 Juni 2020  Profit 61 Juta tanggal 3 July 2020                                      Tanggal 19 Oktober 2020 Rikopedia beli BSDE 18361 lot November 2020 Desember 2020 Kinerja Tahun 2021 Januari 2021 Trading ELSA 27 Januari 2021 Bulan February profit 268 juta Bul...