Langsung ke konten utama

GIAA: Dari Survival ke Profitabilitas Landasan Menuju Laba 2028

Garuda Indonesia (GIAA) sedang berada di titik balik penting. Setelah bertahun-tahun fokus pada restrukturisasi utang dan kelangsungan operasional, arah perusahaan kini berubah: profitabilitas menjadi mandat utama. GIAA jalan menuju laba masih panjang, namun runway-nya kini terlihat jelas hingga 2028

GIAA: Dari Survival ke Profitabilitas Landasan Menuju Laba 2028


1. Pemulihan Kapasitas Jadi Fondasi Awal (2026)


Pemulihan Garuda saat ini sangat ditentukan oleh Citilink, segmen LCC yang sempat terganggu akibat heavy maintenance A320.

  • Armada aktif Citilink turun tajam dari 40 pesawat (1Q24) menjadi 26 pesawat (2Q25).
  • Proses reaktivasi 15 pesawat parkir sedang berjalan.
  • Target: kembali ke full capacity 50 pesawat di 1Q26, tepat sebelum musim puncak Lebaran.

Dampaknya, jumlah penumpang 2025 turun ke 21 juta, namun diproyeksikan pulih ke 25 juta (2026F) dan 29 juta (2027F). Pertumbuhan ke depan bukan agresif, tetapi lebih sehat dan terkendali.


2. Mandat Baru: Profitabilitas > Ekspansi


Manajemen baru di bawah arahan Danantara mengambil pendekatan yang jauh lebih disiplin:

  • Tidak ada ekspansi armada agresif
  • Penambahan pesawat dibatasi sekitar ±5 B738 per tahun
  • Fokus utama: efisiensi biaya, yield, dan utilisasi

Suntikan modal kedua sebesar USD 1 miliar akan difokuskan ke siklus heavy maintenance Garuda mulai 2026, bukan ekspansi besar-besaran. Ini sinyal penting bahwa growth bukan lagi tujuan utama, profitabilitas iya.


3. Citilink: Tiga Jalan Menuju Untung


Citilink saat ini masih merugi akibat:

  • CASK ex-fuel melonjak >4.0¢
  • Yield penumpang tertekan ke ~7.0¢

Tiga jalur menuju break-even, dengan base case berupa kombinasi:

  • Yield naik ke ~7.25¢
  • CASK ex-fuel turun bertahap ke ~3.5¢ pada 2028

Dengan asumsi ini, Citilink diproyeksikan kembali mencetak laba operasional pada 2028F, dengan SLF struktural di sekitar 80%.


4. Full Service Domestik: SLF Adalah Kunci


Segmen full service domestik Garuda justru menjadi sumber rugi pasca-pandemi:

  • Yield masih jauh di bawah level 2019
  • Biaya maintenance B738 akan naik lagi di 2026

Break-even baru tercapai jika Seat Load Factor (SLF) menembus ~87%.
Target ini baru realistis di 2028F, saat segmen domestik diproyeksikan kembali mencetak ±USD 20 juta EBIT penumpang.


5. Internasional: Penting Secara Strategis, Berat Secara Finansial


Segmen internasional tetap menjadi beban struktural:

  • Break-even SLF ~95% (sangat tidak realistis)
  • Persaingan ketat dari Middle East carriers
  • Fokus manajemen: minimalkan kerugian, bukan ekspansi

Kesimpulannya, sumber laba Garuda ke depan hanya dua: Citilink dan full-service domestik.


6. Profitabilitas Datang dari Biaya, Bukan Growth


Secara grup:

  • Revenue 2025 turun ~8% akibat penurunan kapasitas
  • Rebound kuat terjadi di 2026–27 saat armada pulih
  • Adjusted EBIT positif di 2027F,
  • Net profit baru tercapai di 2028F (~USD 50 juta)

Biaya tetap menjadi variabel terpenting, terutama:

  • Struktur leasing
  • Biaya maintenance
  • Efisiensi operasional

7. Dilusi Besar, Valuasi Di-reset


Sisi negatifnya:

  • Suntikan modal USD 1,4 miliar belum cukup
  • Ekuitas masih negatif ~USD 150 juta (2025F)
  • Rights issue lanjutan ±USD 500 juta diperkirakan 2026F
  • Jumlah saham naik 4x → public float turun ke 8%


Kesimpulan Investor


Garuda Indonesia bukan lagi cerita turnaround cepat, Bukan saham spekulasi jangka pendek, Dilusi masih membayangi


Postingan populer dari blog ini

Membership Rikopedia

Selamat datang di halaman registrasi membership Rikopedia. Dengan join membership anda akan mendapatkan bimbingan trading saham dan update informasi yang berkualitas via group WhatsApp.  Kinerja Portofolio Rikopedia dan testimoni member klik  di sini Fasilitas membership detailnya sebagai berikut : Update info saham yang masuk dan keluar portofolio Rikopedia .  Update info saham secara teknikal, fundamental & analisa makro ekonomi. Update news, Sentimen, Trading plan, Money & risk management. Sharing strategy trading saham berdasarkan pengalaman Rikopedia sejak tahun 2008. Member bisa tanya langsung dengan Rikopedia lewat whatsapp. Masuk group WhatsApp premium. Biaya membership Rp. 500,000/ Bulan. Bagi anda yang berminat join membership dapat melakukan transfer ke rekening di bawah ini: 1. Bank Mandiri 1440013474108 Rikosiwi sandi Saputro. 2. Bank BCA 7915239226 Rikosiwi sandi Saputro. Membership akan terhitung dari mulai tanggal konfirmasi p...

Portofolio Rikopedia dan Testimoni Member

Screenshot salah satu portofolio Rikopedia dengan modal awal 500 juta Kinerja Tahun 2018 Kinerja Tahun 2019 Januari February Maret April Mei Juni July  Agustus  September Oktober November  Desember Kinerja Tahun 2020 Tanggal 11 Mei akumulasi BBRI 2250 lot harga 2630 Trading SCMA 27-28 Mei 2020  Tanggal 4 Juni 2020 profit 36 juta dari BBNI Profit 68 Juta dari saham BBNI Profit 37 juta dari saham ELSA Profit 40 juta tanggal 19 Juni 2020  Profit 61 Juta tanggal 3 July 2020                                      Tanggal 19 Oktober 2020 Rikopedia beli BSDE 18361 lot November 2020 Desember 2020 Kinerja Tahun 2021 Januari 2021 Trading ELSA 27 Januari 2021 Bulan February profit 268 juta Bul...