Langsung ke konten utama

Apakah Iran Bisa Memicu Resesi AS Berikutnya?

 

Apakah Iran Bisa Memicu Resesi AS Berikutnya?

Apakah Iran Bisa Memicu Resesi AS Berikutnya?

Konflik geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi perhatian pasar global. Beberapa analis mulai mempertanyakan satu hal penting: apakah Iran bisa menjadi pemicu resesi berikutnya di Amerika Serikat?

Menurut analisis Bloomberg Intelligence, perang bukanlah penyebab utama krisis ekonomi. Namun konflik geopolitik sering kali menjadi trigger yang memicu koreksi besar ketika kondisi pasar sudah terlalu mahal dan rentan.

Saat ini, pasar saham AS berada dalam kondisi yang sangat “stretched”. Rasio US stock market cap terhadap GDPberada di level tertinggi dalam hampir satu abad. Ini menunjukkan valuasi pasar saham sudah sangat mahal dibanding ukuran ekonomi riilnya. Menariknya, di saat yang sama volatilitas Nasdaq 180-hari berada di titik terendah sejak 2018, menandakan pasar terlihat sangat tenang.

Kombinasi valuasi tinggi dan volatilitas rendah sering kali menjadi kondisi sebelum terjadinya pergerakan besar di pasar.

Risiko dari Lonjakan Harga Energi

Konflik di Timur Tengah juga meningkatkan risiko lonjakan harga energi. Secara historis, kenaikan tajam harga minyak sering menjadi pemicu perlambatan ekonomi global.

Ketika harga energi naik:

  • biaya produksi meningkat

  • biaya transportasi naik

  • inflasi kembali terdorong

  • daya beli masyarakat melemah

Efek domino ini dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi dan menekan pasar saham.

Domino Risiko di Pasar Keuangan

Beberapa analis melihat potensi efek domino yang bisa dimulai dari aset berisiko tinggi seperti kripto. Jika likuiditas global mulai mengetat, aset spekulatif biasanya menjadi yang pertama mengalami tekanan sebelum dampaknya merambat ke saham dan komoditas.

Selain itu, volatilitas di pasar energi dan logam mulia juga berpotensi menular ke pasar saham. Bloomberg Intelligence bahkan memperkirakan volatilitas pasar saham bisa meningkat pada 2026.

Potensi Rotasi Aset

Dalam skenario meningkatnya ketidakpastian global, investor biasanya mulai berpindah ke aset yang lebih aman. Setelah periode dominasi kripto dan emas dalam beberapa tahun terakhir, analis melihat obligasi pemerintah AS (US Treasuries) berpotensi kembali menjadi aset yang menarik pada fase berikutnya.

Kesimpulan

Iran kemungkinan bukan penyebab utama resesi global berikutnya. Namun konflik geopolitik dapat menjadi katalis yang memicu koreksi pasar, terutama ketika valuasi saham sudah sangat tinggi dan volatilitas terlalu rendah.

Jika harga energi melonjak dan volatilitas mulai meningkat, pasar global bisa memasuki fase yang lebih tidak stabil dalam beberapa tahun ke depan. Bagi investor, kondisi ini menjadi pengingat bahwa risiko geopolitik sering kali muncul sebagai pemicu dari siklus ekonomi yang sudah rapuh sebelumnya.

Postingan populer dari blog ini

Membership Rikopedia

Selamat datang di halaman registrasi Membership Rikopedia. Komunitas edukasi untuk memahami pasar saham secara lebih terstruktur, rasional dan berbasis data yang berkualitas via group WhatsApp.  Kinerja Portofolio Rikopedia dan testimoni member klik  di sini Fasilitas membership sebagai berikut : Market outlook analisis kondisi pasar saham dan sektor berdasarkan data. Pembahasan studi kasus saham dari sisi teknikal, fundamental dan makro ekonomi. Edukasi mengenai risk management, Position sizing, Trading psychology, Trading plan, Pembelajaran siklus historis pasar dan intermarket analysis. Member bisa tanya jawab langsung dengan Rikopedia lewat whatsapp. Biaya membership Rp. 500,000/ Bulan. Bagi anda yang berminat join membership dapat melakukan transfer ke rekening di bawah ini: 1. Bank Mandiri 1440013474108 Rikosiwi sandi Saputro. 2. Bank BCA 7915239226 Rikosiwi sandi Saputro. Membership akan terhitung dari mulai tanggal konfirmasi pembayaran diterima dan...

Portofolio Rikopedia dan Testimoni Member

Screenshot salah satu portofolio Rikopedia dengan modal awal 500 juta Kinerja Tahun 2018 Kinerja Tahun 2019 Januari February Maret April Mei Juni July  Agustus  September Oktober November  Desember Kinerja Tahun 2020 Tanggal 11 Mei akumulasi BBRI 2250 lot harga 2630 Trading SCMA 27-28 Mei 2020  Tanggal 4 Juni 2020 profit 36 juta dari BBNI Profit 68 Juta dari saham BBNI Profit 37 juta dari saham ELSA Profit 40 juta tanggal 19 Juni 2020  Profit 61 Juta tanggal 3 July 2020                                      Tanggal 19 Oktober 2020 Rikopedia beli BSDE 18361 lot November 2020 Desember 2020 Kinerja Tahun 2021 Januari 2021 Trading ELSA 27 Januari 2021 Bulan February profit 268 juta Bul...