Dalam skenario normal tanpa gangguan, harga Brent diperkirakan stabil di kisaran $70 per barel. Namun jika Selat Hormuz ditutup selama 1 bulan, harga bisa naik mendekati $100. Jika gangguan berlangsung 2 bulan, harga berpotensi melonjak hingga $130–$140. Dalam skenario paling ekstrem, jika penutupan berlangsung 3 bulan, harga minyak bisa mencapai $150–$160 per barel, memicu krisis energi global.
Bagaimana dampak ke ekonomi AS dan Indonesia?
Dampak ke AS
Harga minyak $100 memang menaikkan inflasi dan sedikit menekan pertumbuhan ekonomi AS. Namun Amerika sudah menjadi net oil exporter, sehingga harga minyak tinggi juga menguntungkan sektor energi domestik AS. Oil naik di atas $100 tidak terlalu berbahaya bagi ekonomi AS.
Dampak ke Indonesia
Ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak kini telah mencapai sekitar 65–68% dari total kebutuhan energi. Jika harga minyak terus naik maka dampak ke Indonesia adalah Defisit fiskal melebar, Inflasi naik, Rupiah dan IHSG bisa tertekan
Selama harga oil masih meroket di atas $80 dan selat hormuz masih ditutup IHSG estimasi masih berat buat naik. Kecuali tiba2 ada good news gencatan senjata or selat hormuz dibuka IHSG pasti rebound gila2an


