Industri broadband Indonesia sedang memasuki fase akselerasi besar, dan PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) muncul sebagai salah satu pemain yang paling agresif bertransformasi. Dari sebelumnya hanya dikenal sebagai penyedia konektivitas niche, kini INET bergerak menjadi perusahaan broadband-infrastructure terintegrasi dengan tiga pilar utama: FTTH contracting di Jawa, Wi-Fi 7 berkecepatan tinggi di Bali–Lombok, dan proyek kabel bawah laut Jakarta–Singapura.
Dengan strategi ekspansi yang masif dan pendanaan besar melalui rights issue, INET bersiap memasuki era hyper-growthyang dapat mengubah peta industri internet Indonesia.
1. Kekuatan Utama: Bisnis FTTH Contractor di Jawa
Lewat anak usaha PT Internet Anak Bangsa (IAB), INET menjadi kontraktor utama proyek 2.5 juta homepass milik WIFI.
Targetnya:
500–700 ribu homepass dibangun setiap tahun
2 juta homepass dicapai pada 2028
1,7 juta pengguna aktif
Dua sumber pendapatan:
✔️ Installation fee IDR 270 ribu / homepass
✔️ Maintenance fee IDR 20 ribu / pengguna aktif per bulan
Yang menarik, mulai 2027 pendapatan recurring dari maintenance akan melebihi instalasi. Artinya: cashflow jauh lebih stabil ke depan.
2. Ekspansi Wi-Fi 7: Game Changer dari Bali & Lombok
INET membidik pasar premium dengan teknologi Wi-Fi 7 berkecepatan 2 Gbps—jauh di atas rata-rata internet rumahan sekarang.
Langkah strategisnya:
Akuisisi PT Garuda Prima Internetindo (GPI) – operator “Bali Internet” dan “Flynet”.
Kolaborasi dengan WIFI melalui skema revenue sharing 70:30 hingga 80:20.
Target 2 juta homepass untuk layanan Wi-Fi 7.
Yang membuat proyek ini sangat powerful adalah harga yang super kompetitif:
Paket 2 Gbps Starlite Wi-Fi 7 dipatok sekitar IDR 299 ribu/bulan
Pembanding: paket internet 1 Gbps di Indonesia biasanya IDR 900 ribu – 1,4 juta
Dengan harga disruptif seperti ini, INET diproyeksikan mencatat:
Pendapatan IDR 287 miliar di 2026
Melejit menjadi IDR 3,4 triliun di 2030
CAGR spektakuler: 86%
Ini akan menjadi pilar terbesar pendapatan perusahaan sebelum 2030.
3. Kabel Bawah Laut Jakarta–Batam–Singapura: Mesin Pendapatan Baru
Untuk menopang pertumbuhan kebutuhan internet nasional, INET masuk ke proyek backbone besar bersama KETR.
Detailnya:
Total kapasitas 20 Tbps
Monetisasi melalui skema IRU (Indefeasible Right of Use)
10 Tbps langsung dikontrak WIFI selama 10 tahun
Sisa 10 Tbps akan disewakan ke ISP lain dengan tarif:
IDR 3–4 juta / Gbps / bulan
Kontrak 1–2 tahun
Proyeksi pendapatan:
IDR 108 miliar di 2026
Tumbuh menjadi IDR 192 miliar di 2031
Yang menarik: biaya investasi kabel bawah laut yang dikeluarkan INET sudah tertutup sepenuhnya hanya dari satu klien anchor (WIFI/IJE).
4. Rights Issue Jumbo: Pondasi Ekspansi Agresif
Untuk membiayai seluruh ekspansi besar tersebut, INET akan melakukan rights issue hingga IDR 3,2 triliun.
Alokasi dana:
IDR 2,8 triliun untuk ekspansi Wi-Fi 7
IDR 213 miliar untuk pembayaran IRU kabel bawah laut
IDR 135 miliar untuk modal kerja FTTH
Setelah rights issue:
Kas melonjak dari IDR 62 miliar → 3,2 triliun
Ekuitas naik menjadi IDR 3,4 triliun
Posisi neraca menjadi sangat kuat (net cash)
INET juga akan menerbitkan 3,07 miliar waran Seri II yang berpotensi menambah IDR 921 miliar modal tambahan.
5. Outlook: Era Hyper-Growth Hingga 2030
Dengan modal jumbo dan strategi multi-pilar, INET masuk ke fase pertumbuhan masif:
📌 Total pendapatan tumbuh 85% CAGR (2025–2030)
📌 EBITDA tumbuh 110% CAGR
📌 Margin EBITDA stabil di 25–30%
📌 Wi-Fi 7 menjadi kontributor utama (74% pendapatan 2030)
Ini menjadikan INET salah satu cerita pertumbuhan broadband-infrastructure paling agresif di Indonesia.
Dengan katalis kuat di tiga lini bisnis, recurring income yang kian solid, serta permintaan broadband nasional yang terus tumbuh, INET dilihat sebagai saham bertema infrastruktur digital yang sangat prospektif.
Risiko tetap ada—mulai dari regulasi, kompetisi, hingga reliabilitas jaringan—namun potensi upside jangka panjangnya dinilai jauh lebih besar.
Kesimpulan: INET Sedang Membangun Masa Depan Internet Indonesia
INET bergerak cepat: membangun jaringan FTTH raksasa, meluncurkan Wi-Fi 7 yang disruptif, dan memperkuat backbone lewat kabel bawah laut internasional. Semua didukung pendanaan besar dan strategi komersial yang agresif.
Jika proyek-proyek ini terealisasi sesuai rencana, INET bukan hanya sekadar penyedia layanan konektivitas—tetapi akan menjadi salah satu pemain digital-infrastructure paling dominan di Indonesia dalam 5–10 tahun ke depan.