Ketika euforia pasar masih menari di atas nama Artificial Intelligence, Bank of America menyebut kondisi keuangan global kini sedang mengalami “Hypertension” tekanan darah tinggi di pasar modal.
Semuanya terlihat normal di luar: saham-saham AI mencetak rekor, Nasdaq masih kuat, dan imajinasi investor masih dipenuhi narasi masa depan digital.
Namun di bawah permukaan, tekanan likuiditas mulai meningkat, aliran kas menyempit, dan tanda-tanda awal gelembung mulai muncul.
AI Supercycle: Antara Inovasi dan Ketamakan
Spread obligasi korporasi raksasa teknologi — Amazon, Microsoft, Meta, Google, dan Oracle — mulai melebar. Artinya? Investor mulai menuntut premi risiko lebih tinggi untuk memegang utang perusahaan yang selama ini dianggap “tak terkalahkan”.
Perusahaan-perusahaan besar ini sedang memasuki AI arms race perlombaan membangun pusat data, chip, dan infrastruktur AI bernilai ratusan miliar dolar.
Namun masalahnya, cash flow tak lagi cukup menutupi capex. Dalam 7 minggu terakhir saja, penerbitan obligasi AI mencapai $120 miliar. Spread melonjak dari 50 bps ke 80 bps, sebuah pola yang mirip dengan awal pecahnya gelembung teknologi tahun 2000.
Ketika raksasa teknologi mulai berharap pada intervensi pemerintah, pasar mulai sadar: bahkan AI punya batas efisiensi.
Gelembung yang Mulai Berdenyut
Ada dua jenis tanda dalam setiap gelembung:
“Watch out” (waspadai) dan “Get out” (keluar).
Dan sayangnya, hampir semua sinyal “watch out” kini sudah menyala merah. Berikut tandanya :
1.Market Cap Concentration
7 saham AI terbesar kini menguasai lebih dari 40% kapitalisasi pasar AS — rasio yang sangat mirip dengan era dot-com bubble 1999.
2.Market Breadth
Kenaikan pasar hanya ditopang segelintir saham besar. Sektor lain stagnan atau turun.
Jika kamu keluar dari “Magnificent 7”, pasar terlihat jauh lebih lemah.
3.Valuasi Tidak Rasional
Saham mega cap AI kini diperdagangkan di P/E 45x trailing, bahkan lebih tinggi dari level Tesla saat puncak mania 2021.
4.Global & Retail FOMO
Investor ritel dan global ikut dalam euforia: Jepang (Advantest) dan Korea (SK Hynix) naik dua kali lipat dalam dua bulan terakhir, sementara dana ritel mencatat rekor masuk ke sektor teknologi.
Namun, sinyal “get out” biasanya berupa kenaikan suku bunga atau lonjakan yield belum muncul. The Fed belum mengetatkan, dan itulah mengapa para big short masih menunggu.
AS: Ekonomi Melambat, Politik Memanas
Jika di pasar modal tensi tinggi, di politik Amerika tekanannya tak kalah kuat.
Inflasi dan Politik Tidak Akur
Grafik BofA menunjukkan korelasi jelas: semakin tinggi inflasi, semakin rendah approval rating Presiden Trump. Meski S&P 500 menyentuh 6.700, dukungan publik merosot ke 43%. Rakyat tidak membeli “rebound” pasar saham mereka merasakan tekanan harga di kehidupan nyata.
Youth Unemployment Naik Tajam
Tingkat pengangguran usia 20–24 tahun melonjak ke 7.6%, tertinggi dalam 4 tahun.
Ini bisa menjadi bom waktu sosial, terutama di tahun politik.
Pertumbuhan Lapangan Kerja Stagnan
Dalam tiga bulan terakhir, pertumbuhan lapangan kerja hampir nol. Ekonomi AS mulai menunjukkan tanda “soft landing” yang terlalu lembut bahkan cenderung mendarat keras.
Trumponomics & Tekanan Inflasi
Kenaikan tarif impor oleh Trump meningkatkan penerimaan bea cukai (Chart 6), tetapi berpotensi menyalakan kembali inflasi.
Sementara itu, Chart 7 menunjukkan data jasa (ISM) masih panas, dengan inflasi jasa di kisaran 4–5% hingga 2026. Inflasi ini bersifat “lengket” sulit turun meski suku bunga tinggi.
Jika Mahkamah Agung membatalkan sebagian tarif (seperti pada Chart 8), pendapatan pemerintah bisa anjlok dan memperburuk defisit fiskal.
AI Capex vs Cash Flow: “The Breaking Point”
Tabel BofA menunjukkan dengan jelas: mulai 2025, capex AI akan menelan 80–82% dari total cash flow. Artinya, margin kebebasan finansial perusahaan teknologi makin menipis.
Jika tren ini berlanjut, AI akan menjadi beban finansial, bukan mesin pertumbuhan.Pasar obligasi telah lebih dulu membaca ancaman itu.
Rotasi Tema Investasi: Dari Globalisasi ke Nasionalisme Ekonomi
Hartnett menyoroti pergeseran besar tema investasi global dari era 2020-an awal ke paruh kedua dekade ini:
Kita sedang beralih dari dunia yang cair dan global menuju era fragmentasi dan ekonomi blok.
Investor akan mulai menumpuk aset keras: emas, energi, infrastruktur, dan pertahanan.
Pasar dengan Tekanan Darah Tinggi
Pasar masih optimistis, tapi optimisme itu didanai oleh utang dan harapan. Selama The Fed belum menaikkan suku bunga, gelembung ini mungkin terus mengembang. Namun begitu likuiditas mengetat, efek domino bisa terjadi dengan cepat seperti tahun 2000.
Pasar memang masih hidup, tapi tekanan darahnya tinggi. Dan seperti pasien hipertensi, ia tampak baik-baik saja… sampai tiba-tiba stroke!

